Bahkan Menjadi Rumput-pun aku Tak Mampu
Maret 28, 2008
Sudah lama aku tidak datang ke rumah kecil ini untuk duduk sebentar dan menulis,,
Bahkan aku belum berjalan-jalan melihat-lihat tulisan teman yang lain..
Hiatus sementara itu bukan karena aku menghindar dari komentar teman-teman terhadap tulisan bersambungku sebelumnya,, dan juga bukan karena komentar tentang judul tulisanku yang katanya terlalu “menjurus” sebagai usaha untuk menjadi BOTD,,
Bukan..
Hiatus sementara itu kugunakan untuk aktifitas2 pembelajaran,,
Belajar tentang hidup,,
Ikut ESQ selama liburan..Kamis,, jumat,, sabtu,, minggu,, empat hari berlalu,,
Rindu ingin menyentuh blog ini,, menuliskan sesuatu,,
Tapi kutahan,, aku sedang dalam tahap menuju *titik nol* melalui zero mind process,, menyucikan hati dari segala perasaan-perasaan kotor, kesalahan dan buruk sangka terhadap orang lain,,
Lalu,,
senin,, selasa,, rabu,,Tiga hari ikut outbond begitu orang menyebutnya,,
*** Ini satu pelajaran yang bisa kuambil ketika mengikuti outbond 3 hari kemarin,,
*masih banyak pelajaran dan nilai-nilai yang dipelajari dari outbound yang difasilitasi oleh BWS (Baca: Bee Wise.. Bina Wana Sarana)*
Satuhal yang paling kuingat adalah pesan Mang Engkos,, sang project leader,,
“Rumput ini memberi oksigen pada kita,, tapi apa yang kita lakukan terhadap mereka?? Kita menginjak-injak mereka,,
(apa rumput itu marah dan berhenti tumbuh?? Tidak,,)
lalu pantas kah kita merasa sombong???? Sedangkan menjadi seperti rumputpun kita tak mampu,,”
Aku diam.. ya.. manusia sering sombong,, *merenung mode ON*
bahkan untuk menjadi seperti rumputpun aku tak mampu..



Maret 28, 2008 at 9:34 am
Sifat dasar manusia yang paling tidak disukai oleh tuhan. Takabur.
Maret 28, 2008 at 9:47 am
saya menjadi manusia sajah lah…..
Maret 28, 2008 at 11:24 am
Sombong bukan pakaian kita Sis … semoga kita bisa menghindar sejauh jauh kita mampu menghindar yah… I love you, nulis terus yah Asti, kita berbagi lewat tulisan tulisan kita, agar tapak kita jelas ada. I love you…
Maret 28, 2008 at 11:25 am
@sanca : kamu bukan rumput yah?
Maret 28, 2008 at 1:12 pm
*mencoba bertanya pada rumput yang bergoyang*
Maret 28, 2008 at 1:30 pm
bagi2 dong pengalaman ikut training ESQny mbak..^-^
Maret 28, 2008 at 2:29 pm
bahkan membayangkan pun gw nggak mampu, sebenernya … ah sudahlah gw melow banget kalo baca kayk ginian, gw mesti kebawa merenung kembali dan ah gw kabooo r dech
Maret 28, 2008 at 3:57 pm
welkom beck, from zero to hero yah,
rumput itu hijau sumber kehidupan yah
Maret 28, 2008 at 4:30 pm
wah..
mbak ratu sudah kembali..
selamat datang kembali…
iyah, terkadang kita suka merasa paling…
malu kita sama rumput
Maret 28, 2008 at 4:58 pm
maaf nona, saya tukang babat rumput
Maret 29, 2008 at 6:07 am
Lho, ngapain jadi rumput? :p mending jadi manusia aja…bisa makan rumput…itu pun kalo suka. Hehe.
Maret 29, 2008 at 10:10 am
Tuhan menciptakan kita untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, bukan untuk jadi rumput.
Mbak Asti jangan kepingin jadi seperti rumput ya, soalnya nanti kalo “gondrong” dipotong deh ama Daeng Limpo
Maret 29, 2008 at 12:29 pm
Mbak, bicara soal ikhlas…..
zuzur sazza… saya gak tau persis apakah rumput itu bener-bener ikhlas diinjek-injek manusia ?
Jangan-jangan karena memang Allah tidak memberikan kemampuan untuk membalas…
Jangan-jangan di Padang Mashar nanti kita dituntut deh…. ama tu rumput.
Ngeriiii …. dech
Maret 31, 2008 at 7:54 am
Pagi Asti..
Ooo..ternyata dirimu lagi ikut ESQ toh..
pantesan gak pernah online…
Ntar conference lagi ya.. muachhh!
Maret 31, 2008 at 9:39 am
salam kenal mba…
Maret 31, 2008 at 9:40 am
salam kenal mba….
April 5, 2008 at 9:20 pm
[...] makan bareng,, uuuhhh,, Heran,, sekarang aku jadi banyak berkeluh kesah ya?? Harus nya aku inget cerita rumput dari mang [...]