Diamlah, aku lelah..
Mei 31, 2008
Aku senang mendengarkan suara adzan subuh dipagi buta, teriakan penjaja kue keliling yang menyambutku saat membuka jendela di pagi hari, celoteh riang anak-anak di sekitar komplek perumahan saat sore tiba, suara derap kaki mereka saat berlarian saling mengejar, ramai nya pasar malam yang digelar setelah hari gajian, atau malam hari dimana manusia mulai memejamkan mata dan berselimut kehangatan dan aku tetap terjaga, memandang pada layar komputer, membiarkan jari-jariku menari diatas tuts-tuts hitam itu, menyelesaikan pekerjaan yang terpaksa harus kubawa pulang, ataupun hanya menuliskan sebuah cerita tentang hari ini, tentang aku, ataupun tentang kerinduanku pada Bapak, Ibu, dan adik-adikku, serta kerinduan yang dalam pada “dia”.
Entah mengapa, beberapa hari terakhir ini, yang seharusnya tak jauh berbeda dengan hari-hari lainnya, aku terlalu lelah untuk mendengar.. aku terlalu lelah dengan semua yang terjadi..
Saat seseorang datang padaku, berkeluh kesah, biasanya aku diam meperhatikan, memberikan tanggapan bila perlu, memberi pelukan agar dia bisa menagis dibahuku, atau hanya memberi tepukan pelan dibahunya agar dia bersabar.
Namun kali ini saat sms itu tiba, aku enggan membalas,, terlalu lelah,,
“aku bosan bekerja, setiap hari hanya itu-itu saja, ingin rasanya keluar dari sini”
Aku hanya membacanya,, tidak memberi balasan untuk menguatkannya.. lalu sekali lagi sms dari nya menghiasi layar handphone ku
“aku cape, pengen berhenti aja”
Lalu dengan enggan aku menulis:
Ya,, keluar saja kalo memang ga kerasan, manja bgt si, namanya juga orang kerja, dimana-mana juga gitu, masa mau keluar dari kantor melulu, mau makan apa? Batu?
Lalu sebuah balasan mengejutkanku
“bukan jawaban seperti itu yang ingin aku dengar”
Terburu-buru aku mengetik sms balasan,, “maaf, aku terlalu lelah, aku bahkan ingin dunia diam untuk beberapa saat saja”
Sebuah jawaban muncul lagi:
“Seharusnya kamu bersyukur karena masih bisa mendengar”
Akupun diam..
Mencoba menata pikiran, hati dan perasaan, lalu tenggelam dalam istighfar dan dzikir panjang.. benar.. seharusnya aku yang diam.. bukan mereka.. bukan dunia..
Terimakasih telah mengingatkan.. ^^



Mei 31, 2008 at 10:23 am
Masi cape mbak? Padahal saya mo curhat loh..
Mei 31, 2008 at 10:35 am
Manusiawi, masih punya ego….tapi jangan kebanyakan hehehe.
Mei 31, 2008 at 11:15 am
setuju banget,,diam deh,,walau hanya beberapa detik ,,tinggalkan pekerjaan selama beberapa detik,,bayangkan sebuah tempat terindah yang menyenangkan,,setelah itu segar lagi,,siap melanjutka pekerjaan
Mei 31, 2008 at 11:31 am
Manusia berhak untuk lelah bahkan berhak untuk bosan mendengar cerita. Kita juga berhak untuk didengarkan tidak melulu mendengarkan. Benar kan?
Mei 31, 2008 at 11:37 am
terkadang kita sampai pada titik tertinggi ataiu titik jenuh… dan itu adalah ahal yang benar benar wajar… hampir setiap orang pernah kok mengalaminya..
mending mbak butuh istirahat atau mending refreshing kemana gitu kek.. pantai.. gunung… dataran tinggi atau nonton bioskop dan makan di warung favorit dan lain lain..
mungkin agak sedikit merefreshingkan pikiran yang lagi jenuh
Mei 31, 2008 at 11:49 am
“Terimakasih telah mengingatkan.. ^^”
sama-sama…..
Mei 31, 2008 at 12:08 pm
diam sejenak bisa menimbul kan insfirasi baru dalam menjalani kehidupan….!
diam sejenak melepas lelah itu adalah berpikir
tapi kalo diam terlalu lama itu berbahaya.
salam kenal.
Mei 31, 2008 at 12:45 pm
berikan jawaban bohong yang menyenangkan..
Mei 31, 2008 at 2:58 pm
sometimes friends just wanted to speak out, and sometimes it’s better for us to just listen and pay attention.
Mei 31, 2008 at 3:32 pm
aku diam….ssssssssssssstttttttttt.
diam kok komentar ???
salam kenal mbak
Mei 31, 2008 at 4:01 pm
jadi serba salah ya mbaks…..
Mei 31, 2008 at 4:38 pm
hmmmm…. *nutup mulut*
Mei 31, 2008 at 5:25 pm
Diam itu emas.
Beruntunglah orang yang bisa mendapatkannya…
Mei 31, 2008 at 6:04 pm
sabar mba…..
eh salam kenal ya…..
Mei 31, 2008 at 9:05 pm
duh.. mungkin dia mo nyari temen yg sependapat dgn dia buat curhat
Juni 1, 2008 at 12:33 am
Thanks ibrahnya, karena saya bisa digolongkan kedalam kelompok yang tidak bisa diam.
Juni 1, 2008 at 6:16 am
Mengapa tidak mencoba berlibur ke tempat yang tenang, tak ada orang, tak ada sinyal Hp? Coba pergilah ke Way Kanan atau Ujung Kulon atau naik gunung.
Semoga cepat berlalu.
Juni 1, 2008 at 10:46 am
waduh mbak ..
kalo aku jadi bingung deh….
Juni 1, 2008 at 11:47 am
jadikan …. “kerinduan yang dalam pada “dia”. ” menjadi “kerinduan yang dalam pada “Dia”. ”
Juni 1, 2008 at 12:06 pm
lagi nggak mood nanggepin keluh kesah seseorang emang serba salah
Juni 1, 2008 at 4:38 pm
refreshing dunk mbak
Juni 2, 2008 at 12:44 am
yuk menggapai qalbun saliim
Juni 2, 2008 at 8:28 am
kebosanan kadangkala memang datang dengan sendirinya, tanpa kita harapkan. keluar saja dari ruangan, tengok langit yang lapang dan ucapkan syukur msih bisa menghirup udara tanpa mengeluarkan biaya (baca: beli oksigen)
Juni 2, 2008 at 5:48 pm
terima kasih ya mba sudah mengingatkan saya…
^_^
Juni 2, 2008 at 6:05 pm
Ikut lelah membaca postingan kali ini… saya juga lebih suka diam jika tak tahu lagi harus berkata apa. Hening itu indah …
Juni 2, 2008 at 6:22 pm
Kebanyakan manusia gak mau terima kesalahan sendiri dan malas untuk introspeksi diri maunya nyalahin orang lain dan bahkan benda mati sampai dicaci maki gazebo….
Juni 2, 2008 at 9:44 pm
abis gimana kadang kadang dunia terlalu berisik… atau ga berisik tapi emang mudnya lagi ga ada buat mendengar seperti kalo lagi PMS apa kabar? hm… sbulan skali boleh yah
Juni 3, 2008 at 9:03 am
salam kenal
sebaiknya memang saya lebih banyak mendengar.
nuhun dah diingatkan.
*diam n ngerenung paling nikmat di penghujung malam hari.
November 6, 2009 at 1:33 am
keadaan hening memang sangat menyenngkan dan menenangkan. ada kalanya manusia merasa jenuh dengan semua dan menginginkan sesuatu hanya diam dan tak terdengar apapun..
terimakasih..
November 8, 2009 at 10:32 am
betul.. betul.. betul..