#5 Pertemuan Itu
Juni 6, 2008
Cerita yang lalu.. ada di sini #1, #2, #3 dan #4
Pertemuan itu akhirnya membawa kami untuk duduk kembali bersama di rumah makan milik Mas Andi ini.
“aku maksa mau anter kamu, ga peduli apa kata suamimu nanti”
“udah deh mas, jangan kayak anak kecil gitu, aku bisa pulang sendiri kok, lagian aku ga enak sama Sita”
“fine.. kamu kan masih lama tu antri dokternya, nanti aku balik sini lagi, jadi, mudah-mudahan kamu ga pergi lagi” katanya.
“lihat saja nanti” ucapku, ucapan kata “lagi” dengan intonasi yang sedikit diberi tekanan itu membawaku pada kenangan masa lalu kami, yang tentu saja mungkin sangat menyakitkan untuk Mas Andi dan keluarganya.
Mas Andi pun pergi berlalu, aku tertegun memandang antrian yang memang masih cukup panjang. Bodohnya aku, kenapa aku menolak Mas Andi mengantarku pulang.. ‘oke.. aku masih punya suami’ jawabku sendiri
‘dimana dia?’ tanya diriku yang lain.
‘entahlah.. tapi setidaknya dia laki-laki yang kupilih untuk jadi suamiku bukan?’ diriku yang lain memberi argumen
‘itulah bodohnya dirimu’ jawaban yang lain muncul dalam diriku sendiri.
Aku masih melanjutkan ‘debat dalam diriku’ masih terus berlanjut sampai perawat mempersilahkan aku masuk ke ruang periksa
“kandungan Ibu sudah memasuki bulan ke-empat, jangan lupa dijaga makannya …”
Ucapan dokter itu bagaikan petir disiang bolong
‘bagaimana mungkin sampai aku tidak mengetahui kalau aku hamil?? Kupikir aku hanya mengalami kenaikan berat badan yang sangat significant akibat dari pola makan ku yang agak kacau akhir-akhir ini.. well.. aku memang makan agak banyak.. oke.. cukup banyak.. tapi itu kan karena aku sekarang memasak sendiri, dan menghabiskannya.. mungkin itu cara menghemat yang salah.. ahh.. sudahlah.. aku kembali mendengar penjelasan dokter, dan akhirnya, berterimakasih atas saran dan informasi seputar kehamilan yang ia berikan.
Aku berjalan menuju apotik, menebus vitamin-vitamin dalam resep, dan membayar mahal untuk konsultasi yang tidak lebih dari lima belas menit itu! Menyebalkan!
“udah selesai periksanya?” tanya Mas Andi yang tiba-tiba saja sudah ada disampingku.
“udah” ucapku sambil mengulurkan uang pembayaran pada kasir apotik, dan menerima obatku.
“jadi, boleh kuantar pulang?” tawarnya lagi
“hmm..” aku menimbang-nimbang sesaat
“ayolaaahhh.. setidaknya kita masih bisa berteman kan? Masa suamimu akan curiga, sudah jelas dia menang dariku”
Aku terdiam mendengar kata-katanya.. ingin menangis rasanya, tapi aku menahan air mataku, bodohnya aku.. inilah hiduppp.. penuh pilihan.. dan kadang manusia salah memilih, dan merugi.. aku mungkin termasuk dalam kategori itu!
“oke..” ucapku kemudian.
Kami tidak banyak bicara didalam mobil, aku menjawab sekenanya, masih menyesali dan meratapi hidupku, dan tentu saja sedih memikirkan bagaimana nantinya hidup anak dalam kandunganku ini, bagaimana aku bisa membiayainya? Dan sejuta pertanyaan lain.
Lalu sampailah kami di rumah makan ini, rumah makan yang mengangkat konsep saung, dengan suasana dominan kayu, sangat nyaman..
“kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar.. kamu ga keberatan kan??” tanya Mas Andi
“hmm” jawabku pendek.
“jadi.. berapa usia kehamilanmu sekarang”
“hampir empat”
“wow.. tapi kamu gak keliatan hamil loh.. bneran..”
“terimakasih”
‘ya.. agak gemuk memang.. tapi ga gemuk bgt kok”
Aku Cuma mengangkat bahu ku.. dan mulai minum jus alpukat yang disediakan untukku.
“jadi gimana kabar kamu sekarang?” tanyanya
“baik, mas gimana?”
“yah, beginilah.. masih merintis bisnis”
“istri nya?”
“aku belum nikah, belum ada yang cocok, lagian mana ada si yang mau jadi istriku”
“banyak mas, mungkin emang belum ketemu aja”
“kenapa dulu kamu ga mau?”
Aku diam.. tak mampu menjawab.. aku mengalihkan perhatian pada karyawan yang lalu lalang
“bisnis lancar ya Mas?”
“ya.. kamu liat sendiri.. namanya baru mulai, belum bisa ku tinggal juga”
“masih butuh pegawai ga?’ tanyaku
“kenapa memangnya?” tanyanya heran
“aku butuh pekerjaan” aku menjawab sambil menunduk malu. Mengemis pada orang yang pernah kusakiti.. sungguh hidup terlalu kejam.. tapi aku sangat membutuhkan pekerjaan.
“memangnya suamimu bakal ngasih izin? Liat kamu, lagi hamil gini”
“gak papa kok mas, aku Cuma ga bisa diem aja, biaya hidup pasti naik, apalagi ketambahan kebutuhan bayi, takut ga cukup” jawabku menyembunyikan kenyataan bahwa aku tak lagi dipedulikan oleh suamiku, tapi Mas Andi tak perlu tahu tentang itu.
“oke.. aku memang lagi perlu admin untuk rumah makan ini, kapan kamu bisa mulai?”
“gimana kalo besok?” tanyaku.
“sip!! Kamu emang ga pernah berubah, selalu aja semangat” ucapnya.
Selanjutnya kamipun makan sambil sedikit berbincang tentang kabar terakhir kami, dan aku selalu mengalihkan pertanyaan tentang dimana-siapa-dan-apa-kabar-suamimu yang ditanyakan Mas Andi dengan pertanyaan tentang pekerjaan yang harus aku lakukan.
Akhirnya aku mengucapkan terimakasih atas makan siang dan pekerjaan yang ia berikan, dan pamit pulang, dan ngotot untuk tidak diantar, dengan alasan tidak enak bila terlihat orang.
“oia, tolong jangan bilang Ibu kalo aku ada di kota ini” ucapku sebelum pergi.
“memangnya Ibu bener-bener gak tahu?”
“hmmm..” aku tersenyum simpul lalu berbalik mengabaikan panggilannya, dan segera menaiki angkutan umum yang menurunkan penumpang di rumah makan itu.
Aku menangis.. mencurahkan seluruh kesedihanku dan mengabaikan pandangan ingin tahu penumpang lain. Mungkin aku memang tampak seperti istri yang dicampakkan oleh suaminya.. dan ya.. memang itulah aku..



Juni 6, 2008 at 1:29 pm
Jalani saja dengan pikiran positif, mbak…
Positive thinking makes everything beautiful…
SEMANGAT!! YESSS!!!
Juni 6, 2008 at 1:33 pm
waaaa seruuu
**baca edisi sebelumnya**
Juni 6, 2008 at 1:38 pm
**setelah baca edisi sebelumnya**
yakin keren abizzz … to be continue ga neee ???
Juni 6, 2008 at 1:42 pm
Sorry, belum baca edisi sebelumnya.
Juni 6, 2008 at 2:32 pm
nice writing…. nanti deh kalo kerjaan dah agak longgar baca edisi sebelumnya!!!
salam hangat dari ternate!
Juni 6, 2008 at 2:52 pm
wah.. baca dulu yang #1,2,3,4 dulu ya
Juni 6, 2008 at 3:51 pm
Sis, mungkin kata mas untuk mas andi dihapus aja kali yah… biar terkesan dewasa cerpennya
Juni 6, 2008 at 4:06 pm
ah, jadi pingin seperti cerita ini. hehe
Juni 6, 2008 at 5:07 pm
waaa baca yang sebelumnya dulu ah
Juni 6, 2008 at 8:47 pm
uh uh uh…
[berkeringat mbacanya]
Juni 6, 2008 at 9:19 pm
As wr wb wah saya belum baca edisi sebelumnya jadi belum tahu bener
jalani hari-hari mu dengan yang Positif insyaalloh engkau akan tentram
mbak saya mbaca yang ini aja walah-walah meni lonk
trim Akhir salam wr wb
Juni 6, 2008 at 10:33 pm
sayah bukan tipe cowok yang mencampakkan seorang istri…. *ditabok*
Juni 7, 2008 at 9:00 am
Waaah… jadi ingat postingan dulu tentang jodoh, kalo ketemu jodoh pas udah nikah? trus tau dia tu jodoh atu gak? apakah seseorang yang kita nikahi itu jodoh kita?
aaaarghhhh tidaaaaaaaaaaaakkk…
begitu banyak pertanyaan tanpa ada jawaban….
Juni 7, 2008 at 12:06 pm
hahahahhahahhaa… makin lama ceritanya makin mendewasakan diri and belajar mengerti arti penting seseorang … kira2 malah sebaliknya ga ya dengan yang nulis ? WAKAKKAKAKAKAKAKKAK “”"” kaburrrrrrrrr…………………
Juni 7, 2008 at 12:09 pm
yang penting gak lupa kalo BBM naik
salam kenal dan semoga saling silaturahmi
Juni 7, 2008 at 12:58 pm
udah pernah dikirim ke media ya cerpen ini?
Juni 7, 2008 at 3:54 pm
wah…seru juga ceritanya..serius ini hampir mirip dengan cerita pribadi saya..
tapi ada satu yang mengganjal nih, hari gini apa masih ada yang hamil empat bulan belum ngerasa hamil ya, ini jarang banget saya temukan di praktek, kalau 2 atau mungkin 3 bulan masih bisa deh..terus, terus kok terkejut akan hamilnya setelah dokter ngasi nasehat ya, padahal untuk periksanya sudah ditawarkan sebelumnya untuk tes kencing atau tes fundus uteri (ngukur besar rahim), mungkin sebaiknya terkejutnya disitu ya…
but, it is really a nice story
Juni 8, 2008 at 10:35 am
Selalu ada jalan untuk nerusin cerita diatas yah …. ditunggu, ayo nulis.
Juni 8, 2008 at 10:29 pm
Sep deghh !!!
Juni 9, 2008 at 1:06 am
keknya bakal terjadi clbk nih…
salute ma ceritanya nih mbak..
btw ajarin diriku dong…
Juni 9, 2008 at 8:06 am
Cup..cup..jangan nangis dong…
Juni 9, 2008 at 9:55 am
wah, saya bacanya fokus sepotong saja di part #5 saja nih, mestinya baca ualng semua dari awal ya..
jadi waktu ada bagian yang ini
…………..“kandungan Ibu sudah memasuki bulan ke-empat, jangan lupa dijaga makannya …”
Ucapan dokter itu bagaikan petir disiang bolong
‘bagaimana mungkin sampai aku tidak mengetahui kalau aku hamil?? Kupikir aku hanya mengalami kenaikan berat badan yang sangat significant akibat dari pola makan ku yang agak kacau akhir-akhir ini………
jadinya saya pikir bener-bener gak ngira hamil dari sebelumnya padahal di part #3 da 4 udah diceritain ya
Juni 9, 2008 at 2:25 pm
blogwalking dulu ah
ciauwww
Juni 9, 2008 at 4:15 pm
ih ada happy salma *lirik foto di header*, hahahaa.. *piss*
Juni 9, 2008 at 4:23 pm
hmmm…
ngikut2 mba yang di cerpen yang juga sering bilang: “hmm”
Juni 16, 2008 at 10:48 pm
PADA NGOMONGIN GW YAA ??
Juni 21, 2008 at 6:25 am
ijin baca dulu ya… commentnya belakangan
Juni 28, 2008 at 11:11 am
Ceritanya kok menyedihkan sih? yahh itu adalah risiko dari sebuah pilihan, padahal ortu umumnya tetap akan menerima anaknya dengan terbuka.
Hamil dalam kondisi sedih akan mempengaruhi perkembangan janin.
Juni 30, 2008 at 5:47 pm
[...] you remember what you’re doing this month a year ago? Reading some good stories or poem? Kissing someone special? Or Praising the [...]