#8 Untitle

Juni 14, 2008

 

Aku melirik arlorji ditanganku, jam 10 tepat.

‘setidaknya aku harus menunggu lima menit lagi’ pikirku.

Aku mendekap erat tas tanganku, didalamnya sebuah undangan teralamatkan untuk Rasheed, masih ragu, akankah ku serahkan? Ahhhh.. sudahlahhh.. sepuluh lewat lima menit..

 

Aku melangkah turun dari mobilku, dan berjalan menuju pintu masuk cafe itu, sudah setengah jam aku hanya duduk menunggu didalam mobil, enggan untuk melangkah turun, Tuhan.. kenapa engkau memberi pilihan yang begitu sulitnya.

 

Sayup-sayup terdengar suara Rasheed mengalun, menyanyikan lagu kesukaanku, biasanya ketika memandangnya melantunkan lagu itu, aku selalu tersenyum, merasakan kebahagiaan yang melingkupiku, karena ia hanya menyanyikan lagu itu untukku.

 

Cafe ini baru saja buka, seorang pegawai membalik tulisan “close” di pintu masuk saat aku datang, beberapa berhenti bekerja hanya untuk menyapaku, dan kemudian melanjutkan bekerja, aku duduk dibangku terdepan, tempatku biasa menyaksikan setiap kali Rasheed menyanyi.. dan ini memang bangku kami, tempat kami menghabiskan malam-malam bersama, sekedar ngobrol, atau menonton pemutaran film.

 

Cafe ini terbilang baru, satu tahun tepatnya, ya.. satu tahun yang lalu, Rasheed datang ke kota ini, dan membuka Cafe ini, satu tahun yang lalu, kali pertama aku berjumpa dengannya dan mengenal kembali cinta..

 

Aku memaksakan diri untuk tersenyum, memandangnya, lalu berpaling sesaat, mengusap air mata yang membendung di pelupuk mataku..

 

Lagu yang biasanya terdengar manis itu.. hari ini terdengar sangat mengiris hatiku.. aku mencoba memfokuskan pikiranku, mengingat semua yang akan aku katakan padanya.

 

Bait terakhir lagu itu terdengar semakin menyakitkan hatiku..

 

And in this crazy life, and through these crazy times
It’s you, it’s you, you make me sing.
You’re every line, you’re every word, you’re everything.
You’re every song, and I sing along.
‘Cause you’re my everything.

 

Rasheed mengakhiri lagunya, bangkit dari tempat duduknya, meletakkan gitarnya, berjalan menghampiriku.

 

“ta, kopi dua yang biasa ya” ucapnya pada salah seorang pegawai cafe

“aku black coffee aja” tambahku

‘masih suka kopi pahit?”

“hmm..” jawabku pelan.

 

Kami tenggelam dalam kebisuan beberapa waktu, sampai kopi pesanan kami datang, bagelen kesukaanku pun ikut dihidangkan sebagai teman minum kopi kami.

 

“ngeliatin kamu hari ini, sepertinya aku tau keputusanmu” ucap Rasheed

“maaf”

“gpp kok, aku tahu diri”

“bukan gitu..”

“sstttt..” Rasheed menempelkan telunjuknya dibibirku, jantungku pasti berdetak lebih cepat waktu itu, aku kehilangan semua kosakata, aku hanya bisa menagis..

 

“hei,, sini” Rasheed mengusap airmataku, menarik tanganku dan memelukku.

“Ti, aku cinta kamu, gak akan pernah berubah, kamu tahu itu, aku gak akan pernah benci sama kamu” ucapannya terasa begitu menyakitkan, semua percekapan yang sudah kulatih di Rumah, hilang begitu saja, aku tak mampu berkata-kata.

 

* * *

Masiyy Bersambung lagi yaaaakkkkkk.. :mrgreen:

Related Post :

# 1 It’s Over Beibb!!

# 2 Maafin Santi, Bu..

# 3 Tuhan Kuatkanlah Aku

# 4 Hidup Itu Pilihan

# 5 Pertemuan Itu

# 6 Kembali

# 7 Lovely Ku

 

#7 : Lovely ku

Juni 12, 2008

# 1 It’s Over Beibb!!

# 2 Maafin Santi, Bu..

# 3 Tuhan Kuatkanlah Aku

# 4 Hidup Itu Pilihan

# 5 Pertemuan Itu

# 6 Kembali

# 7 Lovely Ku

 

Aku melirik pada jam di dinding selagi Ibu menyuapiku,

‘jam delapan malam.. mungkin aku pinsan sudah 10 jam..’ batinku.

 

“ayo, sedikit lagi lho.. habisin sekalian dong” ucap ibu, memaksakan dua suap terakhir bubur buatannya itu.

“udah ah bu, ti kenyang” tolakku.

“yaudah kamu istirahat dulu aja” ucap ibu sambil menarik selimutku sampai menutup tubuhku, aku melingkar dibalik selimut, memejamkan mataku, langkah kaki Ibu terdengar menjauh, lampu kamarku pun dimatikan. Suara pintu tertutup. Aku membuka mataku kembali, berjalan dengan berjingkat-jingkat, mendengar langkah ibu semakin jauh, mengintip keluar dan melihat Ibu dikejauhan tengah menuruni tangga. Aku bergegas mengunci pintu, dan mengambil tas yang diletakkan di meja riasku, merogoh dan mengaduk-aduk isinya, sampai menemukan benda mungil berwarna merah jambu itu.

 

Aku menekan beberapa nomor password, dan handphone itu menyala, 30 new sms..

Semua dari Rasheed, menanyakan bagaimana kondisiku dan lain-lain.

 

Aku menekan tombol call back dan menghubunginya.

“kamu ga papa kan Ti?” ucapnya

“gak” jawabku setengah berbisik

“syukurlah.. tadi aku telfon, sepertinya Frida yang angkat, dia kira aku calon suamimu mungkin.. memangnya apa namu di phonebook mu?”

lovely” jawabku malu, dia tertawa keras..

“besok jadi kan?” tanyanya

“hmm..” jawabku datar

“kamu gak berubah pikiran kan, Ti?” tanyanya lagi..

 

Aku diam.. tak tahu harus menjawab apa.. apa aku perlu memceritakan mimpi itu?

 

“Ti?”

“Ya” jawabku pelan

“semua keputusan ada di tangan kamu.. satu hal yang kamu perlu tahu, apapun keputusan kamu, aku pasti tetep dukung kamu, dan ngehormati semua keputusan yang kamu ambil, ga kan maksa kamu.. ok?”

“hmm..” jawabku pelan

“yaudah sekarang kamu istirahat dulu aja, apapun keputusan kamu, aku tetep sayang kamu, love you dear..”

 

Aku tidak menjawab.. aku tak mampu menjawab..

 

nice dream, hun..” telpon pun terputus.. aku tahu, Rasheed pasti sangat menderita, karena akupun begitu, setidaknya sampai saat ini.. hanya Rasheed lah yang mengisi relung hatiku.. ya.. hanya dia lah lovely ku..

* * *

 

OMG.. Masiyy Bersambung lagi yaaaakkkkkk.. :mrgreen:

 

* * *

Oia.. judul lovely ku ituhhh.. diambil karena ga sengajah pas denger lagu apa gitu.. dan dimana gitu.. ga tau juga penyanyi nya siapa.. hehehehe.. :)

“setahuku.. akulah lovely mu.. kau panggil aku babe.. dst nya.. dst nya..”

# 6 Kembali

Juni 11, 2008

“Duaaaarrrrrrr..” angkutan umum yang ku tumpangi itu bertabrakan dengan sebuah truk.. aku tersentak kaget..

 

* * *

Perlahan-lahan bau minyak kayuputih tercium.. aku membuka mataku..

“Bu.. Mba Santi udah sadar” Frida adikku berteriak memanggil Ibu.

“dimana ini?” sesaat aku bingung memandang berkeliling

“dirumah lah mba.. memangnya dimana lagi.. ini kan kamarmu” ucap Frida adikku.

“siapa yang bawa aku pulang?” tanyaku lagi

“kamu ini aneh deh mba.. kamu kan tadi pingsan emang di Ruang tamu, baru aja pulang dari nganter undangan pernikahan kamu” terangnya

 

Aku diam.. apa ini semua..

 

“lagian, kamu gak perlu maksain diri gitu dong sayang.. kamu kan bisa minta tolong Frida, atau minta Pak Zae, supir Ayah untuk anterin undangan itu, ngotot si kamunya” Ibuku ikut duduk di sebelahku.

 

“Ibu ga marah sama Santi?” tanyaku

“kenapa musti marah si? Ah kamu ada-ada aja, ni makan dulu.. udah seharian kamu pingsan.. pasti kamu laper banget sekarang” kata Ibuku sambil menyuapkan bubur.

 

Aku memegang perutku, tidak ada, aku tidak hamil.. semua itu hanya mimpi.. atau petunjuk? Ahhh.. aku tidak tahu.. aku bahkan ingat semua detail mimpi itu, seolah aku benar-benar mengalaminya..

 

Tuhan.. ada apa dengan semua ini..

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – -

cerita sebelumnya:

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - – -

# 1 : It’s over babe!!

# 2 : Maafkan Santi, Bu..

# 3 : Tuhan Kuatkanlah Aku..

# 4 : Hidup Itu Pilihan

# 5 : Pertemuan Itu

 

Bersambung lagi yaaaakkkkkk.. :mrgreen:

 

^tiba-tiba pengen ganti jadi gini karena dua malem berturut-turut aku mimpi yang sama dan sama-sama menyakitkan.. jadi aku sempat berharap (waktu di mimpi itu.. “semoga ini semua hanya mimpi” dan benar saja.. aku memaksakan diri untuk bangun.. dan untunglah.. semua hanya mimpi..)

#5 Pertemuan Itu

Juni 6, 2008

Cerita yang lalu.. ada di sini #1, #2, #3 dan #4

 

Pertemuan itu akhirnya membawa kami untuk duduk kembali bersama di rumah makan milik Mas Andi ini.

 

“aku maksa mau anter kamu, ga peduli apa kata suamimu nanti”

“udah deh mas, jangan kayak anak kecil gitu, aku bisa pulang sendiri kok, lagian aku ga enak sama Sita”

“fine.. kamu kan masih lama tu antri dokternya, nanti aku balik sini lagi, jadi, mudah-mudahan kamu ga pergi lagi” katanya.

“lihat saja nanti” ucapku, ucapan kata “lagi” dengan intonasi yang sedikit diberi tekanan itu membawaku pada kenangan masa lalu kami, yang tentu saja mungkin sangat menyakitkan untuk Mas Andi dan keluarganya.

 

Mas Andi pun pergi berlalu, aku tertegun memandang antrian yang memang masih cukup panjang. Bodohnya aku, kenapa aku menolak Mas Andi mengantarku pulang.. ‘oke.. aku masih punya suami’ jawabku sendiri

‘dimana dia?’ tanya diriku yang lain.

‘entahlah.. tapi setidaknya dia laki-laki yang kupilih untuk jadi suamiku bukan?’ diriku yang lain memberi argumen

‘itulah bodohnya dirimu’ jawaban yang lain muncul dalam diriku sendiri.

 

Aku masih melanjutkan ‘debat dalam diriku’ masih terus berlanjut sampai perawat mempersilahkan aku masuk ke ruang periksa

 

“kandungan Ibu sudah memasuki bulan ke-empat, jangan lupa dijaga makannya …”

Ucapan dokter itu bagaikan petir disiang bolong

 

‘bagaimana mungkin sampai aku tidak mengetahui kalau aku hamil?? Kupikir aku hanya mengalami kenaikan berat badan yang sangat significant akibat dari pola makan ku yang agak kacau akhir-akhir ini.. well.. aku memang makan agak banyak.. oke.. cukup banyak.. tapi itu kan karena aku sekarang memasak sendiri, dan menghabiskannya.. mungkin itu cara menghemat yang salah.. ahh.. sudahlah.. aku kembali mendengar penjelasan dokter, dan akhirnya, berterimakasih atas saran dan informasi seputar kehamilan yang ia berikan.

 

Aku berjalan menuju apotik, menebus vitamin-vitamin dalam resep, dan membayar mahal untuk konsultasi yang tidak lebih dari lima belas menit itu! Menyebalkan!

 

“udah selesai periksanya?” tanya Mas Andi yang tiba-tiba saja sudah ada disampingku.

“udah” ucapku sambil mengulurkan uang pembayaran pada kasir apotik, dan menerima obatku.

“jadi, boleh kuantar pulang?” tawarnya lagi

“hmm..” aku menimbang-nimbang sesaat

“ayolaaahhh.. setidaknya kita masih bisa berteman kan? Masa suamimu akan curiga, sudah jelas dia menang dariku”

Aku terdiam mendengar kata-katanya.. ingin menangis rasanya, tapi aku menahan air mataku, bodohnya aku.. inilah hiduppp.. penuh pilihan.. dan kadang manusia salah memilih, dan merugi.. aku mungkin termasuk dalam kategori itu! :(

 

“oke..” ucapku kemudian.

 

Kami tidak banyak bicara didalam mobil, aku menjawab sekenanya, masih menyesali dan meratapi hidupku, dan tentu saja sedih memikirkan bagaimana nantinya hidup anak dalam kandunganku ini, bagaimana aku bisa membiayainya? Dan sejuta pertanyaan lain.

 

Lalu sampailah kami di rumah makan ini, rumah makan yang mengangkat konsep saung, dengan suasana dominan kayu, sangat nyaman..

 

“kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar.. kamu ga keberatan kan??” tanya Mas Andi

“hmm” jawabku pendek.

“jadi.. berapa usia kehamilanmu sekarang”

“hampir empat”

“wow.. tapi kamu gak keliatan hamil loh.. bneran..”

“terimakasih”

‘ya.. agak gemuk memang.. tapi ga gemuk bgt kok”

Aku Cuma mengangkat bahu ku.. dan mulai minum jus alpukat yang disediakan untukku.

“jadi gimana kabar kamu sekarang?” tanyanya

“baik, mas gimana?”

“yah, beginilah.. masih merintis bisnis”

“istri nya?”

“aku belum nikah, belum ada yang cocok, lagian mana ada si yang mau jadi istriku”

“banyak mas, mungkin emang belum ketemu aja”

“kenapa dulu kamu ga mau?”

Aku diam.. tak mampu menjawab.. aku mengalihkan perhatian pada karyawan yang lalu lalang

“bisnis lancar ya Mas?”

“ya.. kamu liat sendiri.. namanya baru mulai, belum bisa ku tinggal juga”

“masih butuh pegawai ga?’ tanyaku

“kenapa memangnya?” tanyanya heran

“aku butuh pekerjaan” aku menjawab sambil menunduk malu. Mengemis pada orang yang pernah kusakiti.. sungguh hidup terlalu kejam.. tapi aku sangat membutuhkan pekerjaan.

“memangnya suamimu bakal ngasih izin? Liat kamu, lagi hamil gini”

“gak papa kok mas, aku Cuma ga bisa diem aja, biaya hidup pasti naik, apalagi ketambahan kebutuhan bayi, takut ga cukup” jawabku menyembunyikan kenyataan bahwa aku tak lagi dipedulikan oleh suamiku, tapi Mas Andi tak perlu tahu tentang itu.

“oke.. aku memang lagi perlu admin untuk rumah makan ini, kapan kamu bisa mulai?”

“gimana kalo besok?” tanyaku.

“sip!! Kamu emang ga pernah berubah, selalu aja semangat” ucapnya.

 

Selanjutnya kamipun makan sambil sedikit berbincang tentang kabar terakhir kami, dan aku selalu mengalihkan pertanyaan tentang dimana-siapa-dan-apa-kabar-suamimu yang ditanyakan Mas Andi dengan pertanyaan tentang pekerjaan yang harus aku lakukan.

 

Akhirnya aku mengucapkan terimakasih atas makan siang dan pekerjaan yang ia berikan, dan pamit pulang, dan ngotot untuk tidak diantar, dengan alasan tidak enak bila terlihat orang.

 

“oia, tolong jangan bilang Ibu kalo aku ada di kota ini” ucapku sebelum pergi.

“memangnya Ibu bener-bener gak tahu?”

“hmmm..” aku tersenyum simpul lalu berbalik mengabaikan panggilannya, dan segera menaiki angkutan umum yang menurunkan penumpang di rumah makan itu.

 

Aku menangis.. mencurahkan seluruh kesedihanku dan mengabaikan pandangan ingin tahu penumpang lain. Mungkin aku memang tampak seperti istri yang dicampakkan oleh suaminya.. dan ya.. memang itulah aku..

 

Angkutan umum yang kutumpangi melaju memasuki kota terdekat dari kampung tempatku tinggal, tekadku sudah bulat, aku harus tahu kondisi sebenarnya pada diriku, bodohnya aku tidak menyadari bahwa tamu bulananku sudah tidak kunjung muncul tiga bulan terakhir ini.

 

Aku mengusap peluhku, cukup jauh juga ternyata perjalanan dari rumahku menuju ke kota terdekat, entah mengapa dulu aku memilih tinggal di kampung kecil itu, apa aku benar-benar ingin menghindari Ibu ku?? Atau aku yang memang tak sanggup bertemu muka dengannya?? Apalagi dengan kondisiku sekarang ini.

“ kiri depan ya pak.. “ ucapku pada pak sopir sambil mengulurkan dua lembar uang ribuan. Ketika mobil menepi, aku segera turun melihat plang nama dokter kandungan pada klinik keluarga ANUGRAH, dan berjalan memasuki klinik tersebut sambil membenahi rambutku yang berantakan karena keusilan angin saat aku harus naik ojek dari kampung menuju terminal terdekat sebelum akhirnya berganti angkutan umum, perjalanan yang melelahkan, kupikir begitu, aku mencoba mengingat terakhir kali aku bepergian dengan angkutan umum.. uuhhh.. entah kapan.. beberapa tahun yang lalu mungkin.. ah.. sudahlah.. aku enggan mengingat tentang lelaki tidak-tahu-diri-yang-tak-jelas-rimbanya-tapi-sialnya-dia-suamiku-sampai saat ini!!

 

“hufff..” aku masih terus mengumpatnya ketika seorang perawat datang padaku menanyakan apakah aku perlu bantuannya, dan apakah aku sudah mendaftar, lalu ia menyodorkan beberapa formulir yang harus kuisi.. sekali lagi tentu saja dengan nama lelaki-yang-masih-menjadi-suamiku itu.. menyebalkan!!! :mad:

 

Aku mengembalikan formulir yang sudah kuisi itu ke meja perawat tadi, dan saat itulah aku melihat dia (dan tentu saja dia melihat aku!!!) ya.. Mas Andi pria tampan yang perjodohan antara kami kutolak dengan sangat, dan malah kuputuskan untuk menikah dengan lelaki lain yang ternyata tidak sebanding!!! Aku ingin menangis.. melihat ia bahagia.. bukan karena aku marah padanya.. tapi aku iri, pada perempuan yang ada disebelahnya, perempuan yang ia bantu berjalan keluar  dari ruang periksa dokter.

 

Aku memaksakan tersenyum, dan ia pun tersenyum.. “Tuhan.. semoga saja ia tidak membenciku atau memakiku didepan umum, mengingat akan kesalahanku padanya.. duuuhhhh..” batinku. Tiba-tiba saja aku ingin bumi membelah dan menelanku lalu menutup rapat kembali.. tidak menyisakan sedikitpun cerita tentang aku.

 

Ya Tuhan.. ia berjalan ke arahku!!! aku mengintip perempuan yang ia papah tadi duduk menunggu resepnya di depan counter apotik klinik ini. Aku mulai berpikir, apakah aku bodoh, mencampakkan lelaki sebaik Mas Andi, demi seorang lelaki yang tak kuketahui jelas dimana rimbanya saat ini..

 

“Kamu Santi kan??” sapanya

“Iya Mas, Mas Andi apa kabar?”

“Baik, kamu ngapain disini? Tinggal di Kota ini?”

“gak.. agak jauh kok Mas” jawabku kikuk

“Mau periksa kandungan?”

“Iya”

“Suami mu mana?”

“Ga ikut Mas”

“hah?? Kenapa tega gitu, istrinya secantik ini dibiarkan periksa kandungan sendirian”

Aku hanya tersenyum kecut, hidup itu pilihan.. begitu pikirku.. memandang pada diriku dan perempuan itu.. seandainya saja aku bisa mengulang waktu.. aku takkan pernah melakukan kebodohan itu.. sekarang.. saat ini.. alangkah indahnya jika Mas Andi suamiku.. aku rela bertukar tempat dengan perempuan-yang-mungkin-saja-istri-nya itu dan menyerahkan semua yang kumiliki.. tapi semua itu tidak mungkin terjadi!!! Hidup adalah tentang bagaimana kita membuat pilihan, dan menjalaninya.. apapun resiko dari pilihan kita itu.. aku memaksakan diri tersenyum pada perempuan itu saat ia berjalan menghampiri kami..

 

“Udah Mas, ayo kita pulang” ucapnya sambil menggandeng tangan Mas Andi

“Kamu masih ingen Santi kan, Ta??”

Perempuan itu kaget, dan terlihat memaksakan diri tersenyum, dan menyalamiku..

“Iya, siapa yang bisa lupa sama dia..” ucapnya datar, menahan emosi sepertinya.

“Jangan bilang kamu lupa sama Sita??”

 

Aku memandang pada perempuan itu.. mencoba mengingat-ingat entah dimana sepertinya aku memang pernah melihatnya..

“Ini Sita adikku.. masa kamu lupa??”

cerita sebelumnya #1, #2, dan #3 masih berlanjut.. ga tau kapan.. :mrgreen:

Sudah berhari-hari perutku mulas tak karuan, sebentar harus lari kebelakang, memuntahkan seluruh isi perutku, kepalaku pusing, dan mataku bahkan berkunang-kunang, hari ini Frida yang biasanya datang mengunjungiku, tak juga muncul karena harus menghadap dosennya untuk masalah penulisan skripsinya.

 

Kupaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur, membereskan selimut dan bergegas mandi. Sudah seminggu ini aku merasa sakit, tapi aku enggan pergi kedokter atau membeli obat yang dijual tanpa resep diwarung dekat rumah, irit, begitulah alasanku pada diri sendiri, dan berharap terjadi keajaiban suatu pagi, saat aku bangun dari tempat tidur, rasa sakit itu akan hilang begitu saja.. tapi ternyata hingga pagi ini rasa sakit itu masih saja bercokol dibadanku.

 

Aku tengah mengeringkan rambutku, ketika melihat kotak P3K itu. Aku teringat pada obat masuk angin cair yang selalu kusimpan disitu, mungkin masih ada, lalu aku bergegas mencari obat itu, dan menemukannya disana bersama sekotak test pack, alat test kehamilan yang kubeli beberapa bulan yang lalu.

 

‘aku tidak mungkin sedang hamil kan??’ tanyaku pada diri sendiri

‘mungkin saja’ jawab diriku yang lain

 

Hmmm.. tak ada salahnya mencoba pikirku, tapi kemungkinan aku harus menerima kenyataan, bahwa aku masuk angin! Atau aku justru mengharapkan aku masuk angin?? Setidaknya untuk saat ini.. aku berharap aku tidak hamil! Bagaimana mungkin?? Suamiku entah dimana.. bersama perempuan lain, yang mungkin saja sedang tertawa gembira.. ah.. sudahlahhh..

 

Aku membaca petunjuk pada kotak pembungkus test pack itu, dan melakukan seperti petunjuk itu.

 

Menunggu.. hanya itu yang kulakukan.. sampai dua garis merah muda itu muncul..

 

‘ya Tuhan!!! Mungkin aku salah baca..” pikirku, lalu segera meraih kotak yang telah kujatuhkan, kubaca ulang petunjuknya,

 

“dua artinya positif“ gumamku.. aku lemas seketika, seolah kakiku kehilangan tulangnya secara tiba-tiba, aku terduduk dilantai kamar mandi.

 

‘Aku Hamil.. Justru saat suamiku pergi meninggalkan aku.. Tuhan, cobaan apa lagi yang harus kuterima ini?? Bagaimana kelak aku membesarkannya?? Lalu apa yang harus kukatakan padanya saat ia menanyakan ayahnya??’ aku menangis sesegukan, tak tahu harus melakukan apa..

 

***

 

Aku menyeka air mataku, sudahlah.. untuk apa aku meratapinya.. lagi pula aku belum tentu benar-benar hamil “99% akurat” begitu yang tertulis pada kotak pembungkus, masih ada kemungkinan alat test itu salah. Aku harus pergi ke dokter, begitu tekadku. Aku meraih amplop yang kurekatkan dibalik tumpukan bajuku, mengambil beberapa lembar ratusan ribu dari dalam amplop itu, lalu kurekatkan kembali dibalik tumpukan baju itu, amplop itu semakin tipis, sementara aku belum juga memperoleh pekerjaan, tapi aku harus memastikan tentang kehamilan ini.

 

“Tuhan.. Kuatkahlah aku..”

 

Cerita sebelumnya : #1 dan #2

Maafkan Santi, Bu..

Mei 29, 2008

sepertinya (tampak tidak yakin) ini sambungan dari cerita yang ini  :)

Sudah tiga bulan berlalu sejak kepergianmu waktu itu, mencoba bangkit berdiri dari segala keterpurukanku, mencari pekerjaan ternyata bukan hal yang gampang, bertahan hidup dengan menjual beberapa perhiasanku yang diberikan oleh Ibu semasa remajaku dulu, saat aku belum menikah denganmu.

 

“Coba mba dulu gak nekat kabur sama bajingan itu” Frida adikku, hanya dia yang sanggup kuhubungi.

“sudahlah Fri, mba gak papa kok, Ibu sama Bapak gimana kabarnya?” tanyaku sekedar berbasa-basi sambil membuka nasi padang yang ia belikan untukku.

“Baik, kamu bener-bener ga mau kirim kabar ke mereka ya mba?” tanyanya kembali

“Ga Fri, mba malu” jawabku pendek sambil mulai menyuapkan potongan besar rendang favoritku.

“Padahal Ibu kangen banget sama kamu, yakin kamu gak mau kasih tau alamat rumahmu ke Ibu?” tanyanya lagi.

 

Aku diam, kelebat masalalu itu kembali terbayang, Bapak dan Ibu telah menjodohkan aku dengan putra sahabatnya, tak ada yag salah dengan pria itu, Mas Andi pria yang baik, aku tersadar dari lamunanku dan nyaris tersedak potongan rendang yang sedang kusantap itu.

 

“Gak perlu Fri, kamu ada disini aja mba udah seneng, jangan bilang kondisi mba sekarang ke Ibu ya Fri” ucapku memelas

“Iya, janji kok Mba!! Tenang aja” Frida lalu memelukku erat

“Makasih ya Fri” ucapku tertahan, lalu aku balas memeluknya.

“Mba, aku pergi dulu ya, ada kuliah jam 10 ni, nanti aku mampir sini lagi kok” pamitnya, lalu ia mencium punggung tanganku.

 

Aku mengantarnya sampai ke pintu, memandang Frida sampai mobil yang dikendarainya berlalu dari halaman rumahku. Aku dan Frida hanya terpaut selisih usia 2 tahun, kami sangat dekat, bahkan Frida rela melanjutkan kuliah di kota ini, karena dia tahu aku ada disini, “aku ga tega kamu sendirian disini mba” ucapnya saat pertama kali bertemu.

***

aku menutup pintu, dan menarik grendelnya, lalu duduk diam dikursi ruangan tamu itu, memandang berkeliling, dan hanya menemukan kehampaan dan kesedihan yang teramat dalam.

 

Tuhan.. kuatkanlah aku.. seandainya saja dulu aku mengikuti nasehat Ibu untuk menyetujui perjodohan itu, mungkin tak akan begini jadinya.

 

Sekali lagi aku menangis,

 

“Maafkan Santi, Bu..” ucapku pelan.

It’s Over Beiib!!

Mei 26, 2008

Dan begitulah,, kau pergi dengan sepotong ucapan perpisahan,, terlintas semua kenangan yang terukir antara kita,, jalan-jalan panjang yang telah kita lalui bersama,, tepian sungai yang kita lewati bersama dengan kaki telanjang,, lilin2 pada kue ulang tahun mu yang bahkan belum sempat kubereskan,, masih tertancap dalam pada sisa kue ulang tahunmu,, uhh,, secepat itukah??

 

Aku memandang pada punggungmu yang berlalu pergi,,

“i love you babe, but i just love her lil bit more”

Roda-roda koper itu berderit,, sesekali menyenggol dinding rumah kita,, bibirku kelu,, aku tak mampu berucap,, suara bagasi ditutup terdengar memekakkan telingaku, lalu deru mesin mobilmu semakin  menjauh,,

Itukah alasan mu pergi?? Gadis muda belia yang kau bilang cinta padanya?? Jadi apa arti 3 tahun pernikahan ini?? Kenapa kita tidak mampu bertahan??

 

***

 

Aku masih menangis tak mengerti kenapa ini semua terjadi,, kalaupun kita belum dikaruniai keturunan, itu bukan alasan yang tepat yang dapat kau gunakan untuk meninggalkan aku,, kita toh sedang berusaha, setidaknya sampai saat ini kita tahu bahwa tidak ada masalah pada dirimu ataupun organ reproduksi ku.

 

Tuhan.. kuatkanlah aku..

 

Apa yang kurang dari diriku?? Katakan padaku,, apa yang salah denganku,, selama ini aku bertahan dengan prinsip kesederhanaan mu,, meninggalkan kemewahan keluargaku untuk mengikutimu,, aku berusaha memenuhi semua keinginanmu,, membuatmu gembira,,

 

***

Aku bangkit dari kursi disamping telpon, lelah jariku memutar nomor telpon mu, yang tak juga kau angkat.. ratusan sms yang kukirimpun tak juga kau balas,, sudahlah,, mungkin semua ini memang harus berakhir disini..

 

Aku bersumpah,, ini terakhir kali aku menelpon mu,, kalau kau tak menjawab,, semua ini mungkin memang harus berakhir.. do what u want to,, it’s all over,,

 

Nada panggil ponselmu telah habis,, tak ada jawaban,, sudahlah,, aku menyerah.

 

(to be continued.. entah kapan.. :mrgreen: )

# Belum ada Judul

Maret 14, 2008

Sebelum Baca Cerita Ini, baca:

#1 no title

#2  Perempuan Kedua

#3 Senja Diatas Kereta

#4 Kalah

#5 Belum ada judul 

Untuk kesekian kalinya, kita mereguk kembali kenikmatan itu, melepas rindu dan ah, sungguh laknat!

“I love you Bre” Bisikku lembut

“I love you too” Bisikmu sambil mengusap lembut punggungku. 

Kita terlalu lelah untuk membahas surat terakhir yang kau tinggalkan untukku, segala sesuatu tentang keinginan menikahiku bukan untuk kita bahas hari ini, atau setidaknya kuharap begitu.. 

“Sampai kapan kamu akan terus bertahan dengan pernikahanmu itu?”

“kau sudah tahu jawabannya Bre,,” Jawabku

“Plis, jangan manfaatkan anak-anak mu sebagai alasan”

“aku tidak memanfaatkan mereka Sayang, but they are,, mereka memang alasanku bertahan selama ini”

“lalu, kemana arah cinta kita ini?”

“sudahlah, kamu tahu itu, jangan bercanda lagi ah,,” aku mempererat pelukanku, seakan aku enggan untuk berpisah dengannya. 

Telepon genggamku berdering untuk kesekian kalinya,

Amelia, putriku

Sambil memberi isyarat agar tidak bersuara pada Bre, aku mengangkat telpon itu, 

“Ma, mau jemput jam berapa si? Udah bosen nunggu ni”

“Ok, sebentar lagi mama sampai, tunggu ya sayang” buru-buru aku mematikan telpon, dan bangkit dari tempat tidur. 

“Secepat itu?”

“Ayolah Bre, Aku ga mungkin bisa keluar rumah tanpa alasan kan?”

“Terus terang saja, aku masih ingin bersamamu, jadi kapan suamimu pergi keluar kota lagi?”

“dasar nakal,,” aku menyisir rambutku secepat mungkin dan memandang pantulan diriku dalam cermin

“cantik” pujimu

“sudahlah, jangan mulai menebar rayuan gombalmu lagi” kataku sambil memoleskan bedak dan merapihkan riasanku.

“kamu memang cantik Sayang” mau tidak mau aku tersenyum malu, bahkan suami ku sendiri tak pernah lagi memujiku, aaaarrrggghhh!!

Sudahlah, untuk apa memikirkan lelaki itu! Kalau bukan karena ketiga bidadari kecilku itu, aku tidak akan bisa bertahan melewati ini semua. 

“jadi sore ini langsung pulang ke Surabaya lagi?”

“besok pagi, nanti malam bisa ketemu?” ada nada putus asa dalam pertanyaanmu

“hmmm.. kita lihat saja nanti” lalu aku mengecupmu sekali lagi

“I love you so, Babe” Ucapmu

“I love you too Bre, tapi tolong ngerti kondisinya, okay?” Aku meraih kunci mobilku, dan bergegas pergi,

’sudah cukup terlambat, amel pasti ngambek’ pikirku saat melihat jarum penunjuk jam pada arloji ku. 

“Mama telat satu jam!!”

“Maaf sayang, jalanan macet”

“Amel Marah”

“hmmm,, padahal tadi mama pengen ajak kamu makan loh”

“Kemana?” aku tahu bujukanku pasti akan membuahkan hasil

“terserah kamu, kamu yang pilih, asal jangan marah lagi”

“okay kalo gitu,, hmmm,, kita ke Senayan aja gimana?”

“Boleh” 

* * 

Ughh! Hari yang melelahkan, aku tidak mungkin pergi lagi hari ini, sudah seharian aku pergi, dua bidadari kecilku yang lain pasti protes, dan Mas Angga, Suamiku mungkin akan curiga.

Meskipun, sampai jam 11 malam ini dia belum tentu pulang. 

Semua ini tentu takkan terjadi kalau saja Mba Mira tidak pernah muncul dalam kehidupan kami. Mba Mira dan Maria, Putri berusia 20 tahunnya tiba-tiba muncul di halaman rumah kami, mengaku sebagai istri pertama Mas Angga!! 

“Brengsek!” Ucapku setiap kali mengingat kejadian menyakitkan yang terjadi setahun yang lalu itu. 

Seharusnya aku tahu, 14 tahun aku dibohongi, selama ini aku merasa ditipu, kesetiaanku pada Mas Angga tidak ada artinya lagi, semua intrik kehidupan ini membuat jiwaku sakit, sampai saat pertemuanku dengan Bre.

note:

kalo ceritanya gak bagus,, ya maaph!! :mrgreen: