Presumption of Innocent

Azaz hukum yang artinya : “praduga tak bersalah” ini, seharusnya adalah azaz yang dianut oleh hakim disetiap persidangannya,, namun, meskipun tidak ada hubungannya,, hakim juga tidak mengimplementasikan dalam sidangnya,, sehingga kadangkala hakim sekarang takut melakukan dobrakan untuk memutus “tidak bersalah” pada terdakwa,, karena rasa-rasa nya beberapa waktu terakhirrr,, hakim banyak yang mengikuti pola pikir masyarakat dan pers kebanyakan,, (meskipun tidak semua pers kan??) yang mana sudah langsung lebih menganut prinsip “presumption of guilty” jadi “siapapun yang masuk persidangan sudah salah,,” hayyoooo,,, kalo sudah begini,, kmana azaz hukum yang lain yang seharusnya (juga) kita junjung tinggi itu???

Akibatnya,, dalam beberapa kasus,, orang yang tidak bersalah ada juga yang tetap dijatuhi hukuman,, misal hukuman paling ringan saja,, hukuman percobaan,, tapi kan dia sebenarnya tidak bersalah,, berarti tidak harus dihukum toh??

Dalam kasus adelin,, hebat juga majelis hakimnya,, bisa memutus “bebas”,, karena memang bukan pembalakan,, wong dia bekerja diareal yang ada ijinnya kok,, jadi ya gak salah kan???? nahhh,, jadi yang salah siapa?? kok sampe bisa pasalnya gak kena???

Bukannya membela adelin, atau menjelek-jelekkan hakim dan atau jaksanya loh,, saya hanya menyampaikan opini,, mudah-mudahan tidak ada yang sakit hati atau tersinggung atas tulisan ini, karna murni opini sendiri,, tanpa analisa hukum yang dalam,, jadi ya,, jangan sampai menuntut balik loh,, 😀 terimakasih,,

Iklan

3 pemikiran pada “Presumption of Innocent

  1. Praduga tak bersalah dan Memutus tidak bersalah, itu dua hal berbeda. “Praduga tak bersalah” adalah azas hukum terhadap para tersangka pelaku tindak pelanggaran hukum. Mereka tidak boleh dikatakan bersalah sebelum ada keputusan tetap pengadilan yang menyatakan mereka bersalah.
    Sedangkan “memutus bebas” atau “putusan bebas” adalah tindakan hukum yang berupa keputusan majelis hakim di pengadilan terhadap seorang tersangka pelanggar hukum. Putusan itu berdasarkan fakta-fakta hukum yang diajukan jaksa penuntut umum atau fakta yang muncul dalam persidangan.
    Membaca alinea pertama baris paling atas dan kedua tulisan Si Ratutebu, itu terkesan seolah-oleh para hakim dalam persidangan selalu menganggap para terdakwa sudah bersalah ketika dihadapkan ke muka persidangan. Wah! ini keliru. Sepanjang pengetahuanku dalam meliput persidangan di Pengadilan, para hakim sudah bersikap benar. Mereka tidak pernah melanggar azas praduga tak bersalah. yang sering melanggar azas praduga tak bersalah justru masyarakat dan pers. Jika ada seseorang dipanggil polisi atau ditahan polisi, masyarakat langsung mencap dia sudah bersalah. Padahal statusnya masih saksi atau tersangka.
    Coba perhatikan orang-orang di sekeliling kita, lihat berita di surat kabar, bila ada kasus korupsi dengan tersangka seorang pejabat, orang-orang di sekeliling kita langsung saja mengatakan bahwa Si Pejabat itu korupsi, padahal belum ada pembuktian. Kita selalu terjebak dalam asumsi.
    Memang, hakim kita sering melalukan kesalahan dengan menjatuhkan vonis berdasarkan fakta di persidangan semata, hanya berdasarkan dakwaan jaksa. Seharusnya hakim menggunakan kewenangannya mencari fakta pendukung atau pembuktian dari jalur diluar persidangan. Sebab, bisa saja orang yang dihadapkan ke persidangan oleh jaksa dengan setumpuk “bukti”, ternyata bukan orang yang bersalah.
    Beberapa puluh tahun silam pernah terjadi kesalahan pengadilan memvonis mati dua orang yang sama sekali tidak bersalah. Kasus ini terkenal dengan sebutan “Kasus Sengkon dan Karta”. Keduanya dituduh melakukan kejahatan yang sama sekali tidak pernah mereka lakukan.
    Hakim kita belum profesional dalam bekerja. Entah kapan baru ada hakim seperti yang ditampilkan dalam filem “Street Justice”.

  2. Asti Juga Manusia
    Bisa Salah
    Bisa Lupa

    Terus terang aku senang ada tempat diskusi dan adu argumen seperti ini. Kalo minjam istilah temanku, Iwan Piliang (Ketum PWI Reformasi), di Jakarta, “Ada tempat mengadu isi kepala”.
    Wah! kalo isi kepala yang diadu bisa sama-sama hancur dong. Tapi, sebagai orang pintar dan cerdas kamu tau kan maksudnya?
    Hidup Asti Ratutebu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s