Maafkan Santi, Bu..

sepertinya (tampak tidak yakin) ini sambungan dari cerita yang ini  🙂

Sudah tiga bulan berlalu sejak kepergianmu waktu itu, mencoba bangkit berdiri dari segala keterpurukanku, mencari pekerjaan ternyata bukan hal yang gampang, bertahan hidup dengan menjual beberapa perhiasanku yang diberikan oleh Ibu semasa remajaku dulu, saat aku belum menikah denganmu.

 

“Coba mba dulu gak nekat kabur sama bajingan itu” Frida adikku, hanya dia yang sanggup kuhubungi.

“sudahlah Fri, mba gak papa kok, Ibu sama Bapak gimana kabarnya?” tanyaku sekedar berbasa-basi sambil membuka nasi padang yang ia belikan untukku.

“Baik, kamu bener-bener ga mau kirim kabar ke mereka ya mba?” tanyanya kembali

“Ga Fri, mba malu” jawabku pendek sambil mulai menyuapkan potongan besar rendang favoritku.

“Padahal Ibu kangen banget sama kamu, yakin kamu gak mau kasih tau alamat rumahmu ke Ibu?” tanyanya lagi.

 

Aku diam, kelebat masalalu itu kembali terbayang, Bapak dan Ibu telah menjodohkan aku dengan putra sahabatnya, tak ada yag salah dengan pria itu, Mas Andi pria yang baik, aku tersadar dari lamunanku dan nyaris tersedak potongan rendang yang sedang kusantap itu.

 

“Gak perlu Fri, kamu ada disini aja mba udah seneng, jangan bilang kondisi mba sekarang ke Ibu ya Fri” ucapku memelas

“Iya, janji kok Mba!! Tenang aja” Frida lalu memelukku erat

“Makasih ya Fri” ucapku tertahan, lalu aku balas memeluknya.

“Mba, aku pergi dulu ya, ada kuliah jam 10 ni, nanti aku mampir sini lagi kok” pamitnya, lalu ia mencium punggung tanganku.

 

Aku mengantarnya sampai ke pintu, memandang Frida sampai mobil yang dikendarainya berlalu dari halaman rumahku. Aku dan Frida hanya terpaut selisih usia 2 tahun, kami sangat dekat, bahkan Frida rela melanjutkan kuliah di kota ini, karena dia tahu aku ada disini, “aku ga tega kamu sendirian disini mba” ucapnya saat pertama kali bertemu.

***

aku menutup pintu, dan menarik grendelnya, lalu duduk diam dikursi ruangan tamu itu, memandang berkeliling, dan hanya menemukan kehampaan dan kesedihan yang teramat dalam.

 

Tuhan.. kuatkanlah aku.. seandainya saja dulu aku mengikuti nasehat Ibu untuk menyetujui perjodohan itu, mungkin tak akan begini jadinya.

 

Sekali lagi aku menangis,

 

“Maafkan Santi, Bu..” ucapku pelan.

Iklan

13 pemikiran pada “Maafkan Santi, Bu..

  1. Horeeee.. pertamaxxxx…. 😆 😛
    belum baca cerita sebelumnya,… baca dulu aaaah…

    ngegantung soalnya.. hehehehe

    ratutebu: wadoowwwhhh.. udah dateng aja ni,, kok tau si sist kalo baru diisi ulang?? tapi pertamax mahal loh.. mau premium aja?? tapi ngantri disebelah sono.. huahahahahahaha.. 😆 *ditabokin* :mrgreen:

  2. ** ngasih tissue ** – cup..cup.. jangan nangis, yah…
    ** sodorin tangan ** – tissuenya gopek, mbak.

    ratutebu: nyodorin duit seceng.. *balikin gopekkkk* 😦 lanjutin nangisnya..

  3. Saya kangen IBU …. seandainya IBU masih ada, pasti saya tidak menangis sendiri saat ini, pasti ada pelukan hangat dan pangkuan tempat airmata saya mengalir… Ibu, saya kangen !!

    ratutebu: cup.. cup.. cup.. sabar ya mba.. *saiia juga kgn ibu*

  4. siapa yg bisa menduga tentang konsekuensi dari pilihan… manusia toh gak bisa melihat dalamnya hati orang… kadang yg putih belum tentu putih.. yg hitam belum tentu hitam *bingung maksudnya apah*.. yah.. berserah kepada Yang Kuasa mungkin obatnya..

    nb: ceritanya bagus..

    ratutebu: terimakasiiihhh.. betul bgt.. memang konsekwensi dari pilihan.. ga da yang pernah tauuu.. 😦

  5. Ping balik: # 4 Hidup itu Pilihan.. « la vita e bella

  6. Ping balik: Pertemuan Itu « la vita e bella

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s