# 4 Hidup itu Pilihan..

Angkutan umum yang kutumpangi melaju memasuki kota terdekat dari kampung tempatku tinggal, tekadku sudah bulat, aku harus tahu kondisi sebenarnya pada diriku, bodohnya aku tidak menyadari bahwa tamu bulananku sudah tidak kunjung muncul tiga bulan terakhir ini.

 

Aku mengusap peluhku, cukup jauh juga ternyata perjalanan dari rumahku menuju ke kota terdekat, entah mengapa dulu aku memilih tinggal di kampung kecil itu, apa aku benar-benar ingin menghindari Ibu ku?? Atau aku yang memang tak sanggup bertemu muka dengannya?? Apalagi dengan kondisiku sekarang ini.

“ kiri depan ya pak.. “ ucapku pada pak sopir sambil mengulurkan dua lembar uang ribuan. Ketika mobil menepi, aku segera turun melihat plang nama dokter kandungan pada klinik keluarga ANUGRAH, dan berjalan memasuki klinik tersebut sambil membenahi rambutku yang berantakan karena keusilan angin saat aku harus naik ojek dari kampung menuju terminal terdekat sebelum akhirnya berganti angkutan umum, perjalanan yang melelahkan, kupikir begitu, aku mencoba mengingat terakhir kali aku bepergian dengan angkutan umum.. uuhhh.. entah kapan.. beberapa tahun yang lalu mungkin.. ah.. sudahlah.. aku enggan mengingat tentang lelaki tidak-tahu-diri-yang-tak-jelas-rimbanya-tapi-sialnya-dia-suamiku-sampai saat ini!!

 

“hufff..” aku masih terus mengumpatnya ketika seorang perawat datang padaku menanyakan apakah aku perlu bantuannya, dan apakah aku sudah mendaftar, lalu ia menyodorkan beberapa formulir yang harus kuisi.. sekali lagi tentu saja dengan nama lelaki-yang-masih-menjadi-suamiku itu.. menyebalkan!!! 😡

 

Aku mengembalikan formulir yang sudah kuisi itu ke meja perawat tadi, dan saat itulah aku melihat dia (dan tentu saja dia melihat aku!!!) ya.. Mas Andi pria tampan yang perjodohan antara kami kutolak dengan sangat, dan malah kuputuskan untuk menikah dengan lelaki lain yang ternyata tidak sebanding!!! Aku ingin menangis.. melihat ia bahagia.. bukan karena aku marah padanya.. tapi aku iri, pada perempuan yang ada disebelahnya, perempuan yang ia bantu berjalan keluar  dari ruang periksa dokter.

 

Aku memaksakan tersenyum, dan ia pun tersenyum.. “Tuhan.. semoga saja ia tidak membenciku atau memakiku didepan umum, mengingat akan kesalahanku padanya.. duuuhhhh..” batinku. Tiba-tiba saja aku ingin bumi membelah dan menelanku lalu menutup rapat kembali.. tidak menyisakan sedikitpun cerita tentang aku.

 

Ya Tuhan.. ia berjalan ke arahku!!! aku mengintip perempuan yang ia papah tadi duduk menunggu resepnya di depan counter apotik klinik ini. Aku mulai berpikir, apakah aku bodoh, mencampakkan lelaki sebaik Mas Andi, demi seorang lelaki yang tak kuketahui jelas dimana rimbanya saat ini..

 

“Kamu Santi kan??” sapanya

“Iya Mas, Mas Andi apa kabar?”

“Baik, kamu ngapain disini? Tinggal di Kota ini?”

“gak.. agak jauh kok Mas” jawabku kikuk

“Mau periksa kandungan?”

“Iya”

“Suami mu mana?”

“Ga ikut Mas”

“hah?? Kenapa tega gitu, istrinya secantik ini dibiarkan periksa kandungan sendirian”

Aku hanya tersenyum kecut, hidup itu pilihan.. begitu pikirku.. memandang pada diriku dan perempuan itu.. seandainya saja aku bisa mengulang waktu.. aku takkan pernah melakukan kebodohan itu.. sekarang.. saat ini.. alangkah indahnya jika Mas Andi suamiku.. aku rela bertukar tempat dengan perempuan-yang-mungkin-saja-istri-nya itu dan menyerahkan semua yang kumiliki.. tapi semua itu tidak mungkin terjadi!!! Hidup adalah tentang bagaimana kita membuat pilihan, dan menjalaninya.. apapun resiko dari pilihan kita itu.. aku memaksakan diri tersenyum pada perempuan itu saat ia berjalan menghampiri kami..

 

“Udah Mas, ayo kita pulang” ucapnya sambil menggandeng tangan Mas Andi

“Kamu masih ingen Santi kan, Ta??”

Perempuan itu kaget, dan terlihat memaksakan diri tersenyum, dan menyalamiku..

“Iya, siapa yang bisa lupa sama dia..” ucapnya datar, menahan emosi sepertinya.

“Jangan bilang kamu lupa sama Sita??”

 

Aku memandang pada perempuan itu.. mencoba mengingat-ingat entah dimana sepertinya aku memang pernah melihatnya..

“Ini Sita adikku.. masa kamu lupa??”

cerita sebelumnya #1, #2, dan #3 masih berlanjut.. ga tau kapan.. :mrgreen:

Iklan

5 pemikiran pada “# 4 Hidup itu Pilihan..

  1. wew bagus nih..
    hidup ini memang penuh dgn pilihan, mbak,…

    ratutebu: yaaaappp.. selalu begituuu.. *memilih dan menyesal kemudian menjalani resiko dari pilihan ituhhh.. :mrgreen:

  2. As wr wb

    hidup ini memang pilihan tergantung kita mau pilih Hitam

    ataukah kita pilih yang putih

    ingat hidup ini hanyalah panggung sandiwara …

    hidup ini hanyalah semu adanya …..

    JANGANLAH KAU MENGUMBAR 2 NAFSU MU AGAR ENGKAU SELAMAT
    YAITU 1 .NAFSU SAHWAT

    2. NAFSU PERUT

    TRIMA KASIH

    ratutebu: sama-sama,, terimakasih kembali :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s