Unaccompanied Minors (UM) #bukanMOVIEreview

Disclaimer: posting ini bukan review pelem (saya sendiri juga baru tau kalo ada pelemnya) dan sumpah! Posting ini bukan postingan pamer atau narsis, tapi awalnya kelihatannya iyaa..πŸ˜†

 

Jadi gini, beberapa bulan terakhir, setengah terpaksa saya mesti mondar mandir lampung-jakarta-semarang setiap minggu, which is banyak wasting time di bandara, biasanya saya membunuh waktu dengan ketik-ketik sesuatu di leppi, atau baca buku atau majalah yang dibeli di periplus, main game di tablet sambil duduk-duduk di setarbak sembari nolak-nolak kalo ditawari bikin kartu kredit! #sok

 

Karna biasanya saya udah blocking seat dan jarang bawa bagasi (kecuali kalo ujian), makanya saya ga pernah lama di check in counter, until one day,Β  saya mesti ganti jadwal penerbangan karena satu dan lain hal, karena pergantiannya dadakan, saya jadi ga dapet seat 5A atau 5F as usual.. dan takes time milih tempat duduknyaa.. #gaya! Tapi iyaa loohh.. saya pengen yang window side biar bisa bubu, tapi adanya di tengah, dan saya males bgt duduk ditengah.. nanti turunnya laammaaa.. akhirnya saya pilih yang kursi paling belakang, mengingat di lampung nanti biasanya pintu belakang juga dibuka.

 

Nah, jadi disinilah saya ketemu dia.. #welah pengantarnya panjang banget yaaakkk!πŸ˜€

Anak kecil usia kira-kira 10 tahun, pergi sendirian! Well.. oke waktu umur 10 tahun saya belum pergi sendirian yaaa.. jadi agak takjub melihat itu anak Cuma dianter sampe check in counter.

Sambil bertanya-tanya kok boleh ya? Kok boleh yaa? Saya terus mengamati itu anak (yang namanya saya ga tanya siapa).

 

Waktu di check in counter Garuda, Bandara A. Yani :

 

Si kakak bantu dia check in, sambil make sure kalo dia hapal nomorΒ  telpon kakaknya (karena dia ga bawa HP sendiri), oke dia hapal. #tepuktangan

Lalu setelah dapat seat, si kakak diminta isi dokumen unaccompanied minors (UM),Β  dan diberikan kalung (hang tag) yang ada tulisannya UM, seingetku si Cuma tentang data si penjemput, apa hubungannya dengan si anak dan nomer telpon yang bisa dihubungi, yang ternyata adalah si anak ini mau liburan ke tempat om nya di jakarta. Setelah itu si anak diserahkan ke petugas check in counter.

 

Di ruang tunggu bandara :

Well, saya masih ngikuti anak itu, dia diantar masuk ke ruang tunggu, bahkan naik pesawatnya pun di prioritaskan! Lebih dulu dari pada yang pakai kursi roda! Dan tetap ditemani sama petugas.

 

On board :

Waktu mau boarding, setelah semua penumpang duduk, si anak karena kebetulan dapat seat nya dibelakang, saya selanjutnya tidak memantau.. juga karena saya tidur! Hahaha tapi kayanya si diperlakukan sama seperti penumpang lain, dapet makanan dsb nyaa..

Tapi kata temen saya di milis si, kalo si anak ga dapet kursi depan dan kelas bisnis kosong biasanya dia dipindah ke kelas bisnis. Wew!

 

Arrival :

Waktu sampai di bandara, si anak juga turunnya didahulukan, langsung dijemput sama mba pramugari, digandeng sampe depan, dan diserah terimakan ke petugas bandara (oia, disetiap ganti petugas yang bertanggung jawab, mereka ada tanda tangan dokumen gitu loohhh.. wiii.. ) dan diapun akhirnya diantar sama penjemputnya, yang pas mau jemput harus nunjukin KTP dan juga tanda tangan di dokumen2 tadi..πŸ™‚

 

Well, selamat berlibur adik kecil.. semoga liburanmu menyenangkan!

 

Berdasarkan informasi yang saya terima dari pihak airline bersangkutan, musim liburan menyebabkan frekuensi anak-anak bepergian sendiri juga tinggi, hal itu pula yang mendasari maskapai penerbangan untuk menyiapkan program-program yang memenuhi kebutuhan khusus anak-anak bepergian sendirian.

oke, mari kita bahas sedikit tentang UM, jadi UM itu adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan anak-anak yang terbang sendirian, hahaha tapi saya baru tau tuh! :p singkatnya UM adalah anak usia 5-12 tahun yang bepergian tanpa orang tua, wali, atau orang dewasa lain dipercaya.

Sejauh ini saya taunya GA mengizinkan UM, tapi mungkin maskapai lain juga bisa yaa.. coba aja menghubungi maskapai penerbangan untuk memastikan bahwa mereka menerima anak-anak tanpa pendamping sebagai penumpang.

Untuk perjalanan singkat ini mungkin tidak menjadi masalah besar, tetapi untuk perjalanan yang panjang yang ada connecting flight nya, agak deg-deg an kali yaa.. hmm.. ga kebayang kalo nunggu connectnya lama, dan belom lagi delay penerbangannya!

11 thoughts on “Unaccompanied Minors (UM) #bukanMOVIEreview

  1. Wah, sekali-kali nanti kalau punya anak mau coba disuruh pergi UM begitu, ah. Uji nyali. Hwehe.πŸ˜€

    Pernah gak sekali-kali ngusilin orang saat lagi jenuh-jenuhnya nunggu di bandara?πŸ˜›

    • boleh dicoba mas..
      eh? saya ngusilin orang? ga pernah kok.. #silangjaridibelakangpunggung
      hahaha..
      ga, saya seneng bantuin orang yang kesasar, bantuin ibu-ibu check in di international departure, bantuin TKI TKI yang bingung baca tiket nya atau sekedar nemenin ngobrol penumpang yang juga pergi sendiri..

  2. Seneng bisa baca blog ini. Awalnya saya cuma pengen tau, apa sih singkatan UM. Kebetulan musim liburan ini saya dan suami mencoba melatih keberanian anak2 untuk naik pesawat tanpa pendamping orang dewasa. Anak kami dua, yang sulung umur 14 tahun, SMP klas 2 dan adiknya 10 tahun, SD klas 4. Keduanya laki2. Keduanya berlibur di neneknya di Semarang. Kami tinggal di Jakarta. Ada problem ketika mereka mau balik setelah berlibur seminggu, tidak ada yang anterin plg ke Jakarta. Satu2nya jalan ngajari mereka untuk berani plg berdua via pesawat. Awalnya keduanya ragu tapi lama2 mereka mau. Kami janti kalau check in akan dibantu Om dan kami siap jemput di Cengkareng. Sebagai info, anak kami naik maskapai Sriwijaya air. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik dan lancar. Anak2 senang dan diperlakukan dengan baik. Semenjak check in, menuju ruang tunggu, naik pesawat, turun pesawat, dan penyerahan pada penjemput dan claim bagasi semua dipandu petugas. Kalung UM memang tanda perlakuan khusus bagi anak2 yang pergi tanpa pendamping orang dewasa. Ternyata bukan maskapai garuda saja yang melakukan. Maskapai lain, yang kami tahu Sriwijaya air juga melakukan hal yang sama. Bagi siapapun yang mau melepas si kecil berlibur, rasanya tak perlu terlalu khawatir bila memang tak memungkinkan orang dewasa menemani mereka. Yang penting fasilitasi bekal dan alat komunikasi biar anak2 kita merasa nyaman. Hal ini jg pembelajaran melatih keberanian dan percaya diri. Namun pemantauan keluarga tetap nomor satu. Semoga bermanfaat pengalaman nyata ini.

  3. pertayaan …. kalo flight nya transit..trus transitnya lama krn nunggu pswt lain..contoh nunggu 12 jam..bisa ga UM…klo bs trus service nya spt apa yah..tks before

  4. Kalau anak2 saya dari umur 6 dan 9 tahun sudah naik pesawat berdua, menggunakan UM juga. Mereka liburan dr Makassar ke Jakarta, hingga sekarang sdh umur 12 dan 15 th hampir setiap liburan pergi sendiri. Yang penting data penjemput harus jelas dan anak2 bawa HP, jadi gampang komunikasi pd saat sampai di tujuan. Puji Tuhan sekarang mereka jadi anak2 yang mandiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s