in loving memory of our lil’ angel Khalid

bayi laki-laki mungil yang lahir normal itu, tersenyum manis dalam gendonganku. aku menimang-nimang ia dalam pelukan.

‘bunda panggil kamu siapa ya nak?’ godaku, mata beningnya menatap kearahku seakan mengatakan ‘menurut bunda?’

aku lalu menoleh pada wanita yang tengah terbaring lemah usai melahirkan, ibu kandungnya, sang suami duduk disebelah tempat tidurnya, mereka saling berpandangan.

‘kami belum punya nama bu, monggo kalau ibu punya nama yang bagus’ begitu katanya.

Aku lalu mengingat panglima perang gagah berani, khalid bin walid, ‘bagaimana jika KHALID?’ Tanyaku. Mereka berpandangan, lalu mengangguk setuju.

Khalid, putra seorang buruh panggul gula pasir, dulu ibunya pernah ikut bekerja bantu-bantu di rumah. Himpitan ekonomi yang sempat dilontarkan kepadaku ketika meminta dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga saat ia mengandung khalid.

Beberapa hari sebelum persalinan, ia minta berhenti kerja, untuk merawat bayinya kelak katanya.

Aku ikut menunggui kelahiran bayi mungil itu. Mengurus administrasi rumah sakit. Menengok ia setelah pulang dari rumah sakit. Memastikan ia memperoleh asi. Mencarikan pompa asi untuk ibunya yang kesulitan menyusui. Sampai ikut mendiskusikan perlu tidaknya susu formula tambahan.

Khalid,
kelak engkau akan menjadi orang besar sesuai namamu nak..
Harapku.

Aku meninggalkan lokasi perkebunan untuk jangka waktu yang lama, karena urusan keluarga dan beberapa urusan dinas.
Beberapa kali menyempatkan diri untuk menelpon menanyakan kabar Khalid.

lalu skitar 5 hari setelah kepergianku, aku menerima pesan singkat yang mengabarkan bahwa khalid tengah dirawat pada sebuah rumah sakit karena disentri.

Aku lalu mengkhawatirkan kondisinya, bagaimana biaya pengobatannya. aku segera saja pulang.

Genap 27 hari Khalid menginap di rumah sakit. Sepulang dr rumah sakit, ingin sekali aku membawa khalid kembali ke rumahku, untuk tinggal bersamaku, di lingkungan yang lebih bersih dan lebih sehat.

Tapi keluarganya menolak. Aku tak mampu mendebat.

Beberapa hari berselang setelah kepulangannya dari rumah sakit, aku mengantar bayi berusia 2 bulan itu ke rumah sakit untuk menjalani kontrol. Badannya kecil untuk ukuran bayi seusianya. Tapi ia tersenyum. Matanya tetap bening. Dokter berkata kondisinya mulai membaik. Aku lega.

Sepulang dari kontrol, keluarganya mengabarkan, bahwa hari ini khalid sangat riang, ia bahkan minum susu dengan lahap.
Firasatku tidak enak. Aku mengabaikan.

Benar saja, esok paginya, sebuah pesan singkat bagai petir menyambar, khalid telah tiada..

Aku terpaku lama memandang layar ponselku. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..

Selamat jalan khalid-ku sayang.. Allah lebih menyayangi engkau daripada kami semua..

Selamanya engkau malaikat kecilku..

Iklan

3 pemikiran pada “in loving memory of our lil’ angel Khalid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s