Sepenggal Kisah dalam Secangkir Kopi

Hujan masih mengguyur jalanan kota Jakarta ketika aku memacu pelan mobil mini cooper ku menuju bandara soekarno hatta.
‘masih cukup waktu’ pikirku.

Sudah dua tahun lamanya aku menjalani rute yang sama, disetiap jumat sore, menuju bandara, aku menyetel ulang volume audio CD elvis presley kesukaan suamiku, sesekali berhenti karena tol menuju bandara mulai padat, ah, hari jumat seperti biasa banyak penumpang menuju ke kota dan meninggalkan kota dari bandara.

But I never stopped thinking about you
Found myself wishing you were there
Just to be with me, feel the breeze
Sun didn’t smile I didn’t care

Lagu thinking of you mengalun lembut, mengiringi perjalanan menuju bandara, hujan mulai tinggal rintiknya saja, tapi mendung masih mengelayut manja di langit kota Jakarta, menambah sendu suasana hari itu.

Aku berlari lari kecil menuju terminal kedatangan internasional, memandang pada deretan informasi penerbangan kedatangan, dengan seonggok kerinduan direlung hati terdalam.

‘ah, sepertinya akan sedikit terlambat, aneh sekali kenapa ia lupa memberitahukan perihal keterlambatan ini, ah sudahlah’ pikirku.

aku berjalan menuju gerai kopi di terminal yang sama, memesan secangkir kopi panas dan duduk di deretan paling ujung sambil memandang kearah hiruk pikuk penumpang bandara yang silih berganti tiba.

Ketika pelayan mengantarkan kopi, aku sedang memastikan handphoneku menyala, aku bahkan mencabut headset yang terpasang dibadan handphone. Pelayan itu tersenyum sendu. Aku berusaha membalas senyumnya. Ia berpaling.

Aroma kopi pun menyeruak ke berbagai sudut ruangan ini, aku membiarkan hidungku menikmati setiap aroma yang ada.

Mengingat kembali perjalanan bulan madu kita di sudut kota aceh, kamu menutup mataku kala itu, membawa secangkir seduhan kopi khas aceh ‘cobalah untuk menikati setiap tetesnya’ begitu katamu. Aku tertawa terkikik. ‘harus pakai tutup mata ya Mas?’ ucapku, kamu tidak menjawab, mendekatkan cangkir ke bibirku, aku menyesap. ‘hmm.. nikmat memang’ ucapku.
‘biarkan indera pengecapmu bekerja’ katamu.
‘ah, kita Cuma dua pecinta kopi yang tengah di mabuk cinta, apa harus seserius ini minum kopi?’ tanyaku.
Kamu membuka ikatan penutup mataku, seketika itu engkau berlutut dihadapanku, ‘Will you make me the luckiest man in the universe?’ aku merona malu. ‘plis Mas, kita bukan yang baru mau menikah loh.. kita sudah menikah’ aku tertawa karenanya, kamu kembali duduk dihadapanku. ‘ah.. susah sekali melakukan hal romantis buat kamu’ katamu kemudian.

***

Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum mengingat hari hari kebersamaan kita. Hari ini gerai kopi ini tampak sunyi, hanya sesekali terdengar denting lonceng pintu dibuka, aku mengambil sebuah buku notes kecil berwarna biru, menilik kembali daftar to-do-list yang telah aku buat untuk seminggu kedepan.

‘hm.. janji dengan psikiater’ pikirku, aku mencoret daftar itu, sepertinya tidak begitu penting, aku telah banyak mencoret janji yang sama, kemudian aku memindahkan beberapa post it bertuliskan to do list yang dirasa tidak diperlukan.

Aku mengingat kembali saat pertama kali aku mengantar suamiku kembali bekerja, ah iya, dia memang tidak bekerja di Indonesia, menurutnya Singapura jauh lebih menjanjikan, expose kepada dunia international nya lebih terasa kental disana, aku meng-iya-kan keinginannya untuk bekerja di negeri dengan icon patung singa duyung itu, meski berat rasanya.

‘kelak aku ingin kita tinggal bersama di Singapura’ begitu katanya sambil mengusap airmata yang mengalir begitu saja di wajahku. Aku mengangguk.
Beberapa kali sesudah itu, aku sempat mengunjunginya di Singapura, namun flat tempatnya tinggal, biaya hidup dan banyak pertimbangan lain masih kami tinjau ulang kembali sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk ikut hijrah ke Singapura. Apalagi jika kelak kami dikaruniai anak-anak dalam pernikahan kami ini.

Maka disinilah aku setiap dua minggu, menunggu dia kembali, sambil menyesap kopi yang sama.

‘maaf kamu harus menunggu lama, shall we?’ begitu katanya ketika beberapa waktu yang lalu ia terlambat datang, penerbangannya mengalami penundaan katanya, aku biasanya hanya tersenyum, ada terlalu banyak hal yang ingin kubagi dengannya, alih-alin marah karena ia terlambat atau bahkan pernah lupa memberitahu bahwa ia menggunakan penerbangan yang berbeda.

‘Kau lihat? Aku membawakanmu parfum kesukaanmu’ katamu waktu itu. Aku tersenyum manis ketika kamu memelukku.

‘boleh aku habiskan dulu kopiku sebelum kita pulang?’ tanyaku manja.

‘Mau berbagi?’ Tanyamu kemudian. Aku menggeser tempat dudukku, mendekatkannya kepadamu, menggeser cangkir kopi dan memasangkan satu earphone di telingamu, sementara pasangannya masih ada di telingaku.

‘ah, sejak kapan kamu mau menyukai lagu elvis, sayangku?’ katamu

‘sejak aku menikah dengan laki-laki yang sepuluh tahun lebih tua dari usiaku, dan ia begitu menggemari lagu elvis presley’ jawabku cuek, lalu kamu memelukku.

‘aku mencintaimu’ bisikmu.. ah, I love you even more..
Pernikahan kami memang masih seumur jagung, bulan depan kami baru akan merayakan dua tahun pernikahan, tapi sepertinya kami sudah mengenal selama seumur hidup kami. Kadang ia mengingatkan betapa baiknya tuhan mempertemukan kami waktu itu.

Ya.. di gerai kopi ini pula kami bertemu pertama kali, ketika itu suasana sedikit lebih ramai, aku tengah duduk di sebuah meja untuk dua orang, memasang headset dan memejamkan mata berusaha menenangkan diriku, ketika sebuah suara berat menyapa,
‘kursi ini kosong?’ tanyanya, aku melihat sekeliling, ah memang penuh, aku lalu mengangguk pelan. Ia pun manarik kursi dihadapanku dan meletakkan koper disampingnya.

Satu jam lebih kami tidak saling menyapa, sampai akhirnya ia memperkenalkan dirinya. ‘danu’ katanya. ‘alice’ jawabku.
‘benar benar alice? Seperti alice in wonderland?’ tanyanya.
Aku tertawa ‘iya’

Pertanyaan yang sering aku anggap pelecehan oleh beberapa orang itu, kali ini aku anggap sebagai penghiburan, aku menyukai cara ia tersenyum dan lekukan lesung pipt dikedua pipinya, aku tidak banyak mendengar setelahnya, hanya memperhatikan cara ia tertawa dan kedua lesung pipitnya. Ah, aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama sampai aku benar benar mengalaminya.

Kami bertukar nomor telpon sesudahnya, hubungan kamipun tidak berhenti sampai disitu, ada banyak pertukaran pesan lewat whats app dan juga jutaan FaceTime layaknya pasangan long distance relationship lainnya sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menikah.

‘jalan menuju pernikahan ini tidak akan mudah’ katanya. Aku mengangguk. Kami berdua sama-sama menyadari, pernikahan dua agama memang tidak semudah itu dapat dilakukan di Indonesia. Belum lagi Ibuku, sebagai orang tua tunggal agak keras menentang pernikahan kami pada awalnya, sempat ingin kawin lari saja, namun niat itu diredam oleh mas danu, ‘kita hanya akan menikah dengan restu orang tua’ begitu katanya waktu itu.

Butuh waktu untuk meyakinkan keluarga kami, Ibuku terutama, sedangkan keluarga mas danu hanya tinggal akak dan adiknya, mereka lebih terbuka menerimaku, mengingat dari usia mas danu yang sudah tidak muda lagi, mereka lebih ingin ada yang merawat mas danu hingga khir hayatnya.

Bahagia,
Begitu bahagia, ketika Ibu mengizinkan pernikahan kami dilangsungkan, Ibu tidak mempermasalahkan dengan cara apa pernikahan itu akan dilangsungkan.
‘Ibu tidak bisa menghalangi kebahagiaanmu kalau memang ini pilihanm, nak’ walau ibu terlihat memaksakan menarik senyumnya, aku tahu mungkin sebagian diri ibu tidak rela, sebagian dirinya menentang pernikahan ini, tapi jauh diatas itu, ia ingin putri kecilnya bahagia.

Ibuku sendiri entah apakah ia benar benar bahagia, aku anaknya tidak pernah tahu akan hal itu, sudah lama ia menyembunyikan perasaannya, air mukanya tidak lagi tampak mengekspresikan isi hatinya, ia terbiasa mengubur semua rasa didalam hatinya, seumur hidupnya, sejak Ayah meninggalkannya tanpa kabar berita. Hidup telah begitu menempanya, dikucilkan dari keluarganya karena tuntutan perceraiannya, membesarkan dua orang anaknya dengan kedua tangannya sendiri tanpa meminta-minta. ‘terimakasih, Ibu’ begitu kataku waktu itu, aku bersimpuh dihadapannya, meletakkan kepalaku di pangkuannya, merasakan bahagia, kecewa dan derita di waktu yang sama.

***

Aku melirik jam di pergelangan tanganku, sudah satu jam berlalu, aku kemudian melihat pada layar handphone-ku, belum ada pemberitahuan maupun kabar darimu.
Aku merogoh pada tas tanganku, mencari pena untuk mulai menulis pada daftar to-do list itu, aku baru ingat jam tangamu mati, ah, aku bahkan membawa jam tangan itu, masih sama bertanggalkan satu bulan yang lalu. Aku lalu merutuk pada diri sendiri mengapa aku bisa begitu pelupa. Aku menunduk, menuliskan dalam daftar to-do list, mungin nanti aku akan minta kamu mengantar aku ke toko jam tangan.

‘mau secangkir kopi lagi?’ tanya pelayan gerai kopi itu. Mataku melirik pada cangkir kopiku, masih tersisa setengahnya ‘tidak usah, terimakasih, saya minta bill saja’ ucapku.

Sepertinya ada yang salah, aku melihat kalender, iya ini hari jumat minggu kedua, aku sehausnya menjemput kamu seperi biasa, dijam yang sama, aku membereskan barang-barang bawaanku, membayar secangkir kopi yang kuminum hari itu, dan meninggalkan sedikit tips di meja.

Para pelayan di gerai kopi itu melempar tatapan sendu padaku, aku tersenyum manis, berusaha tidak menghiraukan tatapan mereka.

Aku harus kembali ke layar pengumuman kedatangan itu segera, akupun bangkit dari bangku tempat dudukku,

‘alice’ sebuah suara memanggil namaku, aku menoleh.
‘Ibu..’ kataku, aku melihat ibu dan adik laki-lakiku, seketika tenggorokanku tercekat. Benar firasatku, ada yang salah.
‘ayo kita pulang’ kata ibu kemudian. Wanita paruh baya itu dengan sabarnya mengamit lenganku.
‘tapi bu.. Alice masih menunggu Mas Danu, bu’ kataku pelan.
‘terimalah nak, Mas Danu sudah meninggalkan kita semua, nak.. itu kenyataannya’ suara ibu nyaris tak terdengar olehku. Seketika kakiku lemas, adik laki-lakiku menopang badanku.

Tiba-tiba saja semua ingatan tentang mengapa jam tangan itu mati menyadarkanku, ah aku ingat ruang rumah sakit yang serba putih itu, aku ingat kanker paru paru yang menggerogoti mas Danu, terlintas satu waktu ketika aku menarik tombol sisi kanan dan mematikan total jam tangan audemars piguet milikmu, di hari engkau meninggalkan dunia ini, semua kejadian itu berputar cepat layaknya film lawas yang diputar dihadapan ku.

Aku mengingat rona bahagiamu ketika aku mengabarkan kehamilanku, ‘Kelak anak-anak kita akan mendapat pendidikan yang baik dan masa depan yang cerah’ begitu katamu waktu itu sambil mengusap perutku. Aku menggenggam test-pack yang menunjukkan hasil positif itu ditanganku sambil tersenyum.

Aku kehilangan kesadaran.

Semuanya buram.

***

Begitulah, Jumat dua minggu kemudian, di jam yang sama seorang pelayan di sebuah gerai kopi terminal internasional soekarno hatta memandang pada sosok wanita yang datang memesan secangkir kopi, duduk di deretan paling ujung ruangan, mengeluarkan telepon genggamnya, mencaput headsetnya dan mencoret coret sebuah buku kecil berwana biru.

Pelayan itu pun segera mengambil catatan diatas mejanya, melakukan panggilan telpon, ‘Bu Tatiek, mba Alice ada disini’ bisiknya.

Dan wanita itu masik duduk disana, memandang pada hiruk pikuk bandara dengan secangkir kopi dan sepenggal kisah hidupnya.

***

Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCUpOfStory yang Diselenggarakan pleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

5 thoughts on “Sepenggal Kisah dalam Secangkir Kopi

    • maaf saya tidak tahu siapa anda dan maksud tujuan komentar anda, jadi mohon maaf komentar anda saya moderasi.

      terimakasih sudah ikut serta meningkatkan traffic blog saya, merdeka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s