Mari Menulis Saja

bukan saya tidak peduli soal royalti ya.. tapi maaf untuk penulis kelas kacang seperti saya *itu juga kalo saya boleh ngaku-ngaku penulis, kenyataannya saya cuma perempuan yang bawa pinsil dan buku catatan kemana mana* saya gak pernah mendaftarkan ‘royalti’ dalam step menulis saya.

lebih ke memikirkan, mulai dari mana ya? suasana seperti apa ya yang mesti saya ciptakan supaya menginspirasi? saya mau nulis pakai bahasa apa ya? mau nulis tentang apa ya? kasih judul apa ya? pake foto gak ya? and so on, tp gak ada ‘nanti saya dibayar berapa ya?’ 

serius ini, serius!

jadi gini, postingan ini awalnya bermula ketika *sebut saja* nulis nganu mengadakan sebuah kompetisi menulis, tetiba saja gitu yang pada komen nulis ‘jadi kita nanti dapat royalti gak?’ 

YHA KOK?!

sudah nulis belom? nulis aja dulu! gitu aja kok repot! hih!

*ini sesungguhnya hanya postingan ‘timbangane misuh misuh dewe’

Do what you love, love what you do

tag line tersebut mungkin sudah sering kita dengar, sudah sering kita bacanamun mungkin kita belum memaknai lebih dalam ah.. saya mau nulis apa si ^^

saya siapa sih.. berusaha menggurui, sok tahu, dan sok lebih pinter.. :mrgreen:

versi lengkapnya mungkin begini (kata saya) ya kalo salah maap *ihik* :

whatever you do. whatever you say. people will always find something to say.

do what you love, love what you do. keep calm, put some smile on and stay stunning!

sudahlah, apapun.

*gak jadi nulis* :mrgreen:

Back To Work!

hello fellas!

long time no see you.. *dancing*

Getting back to work after a long-vacation seems like a simple thing, but for me actually difficult! kind of vacation-lag or say it post-vacation blues!

Almost everyone who enjoys traveling is subject to what is commonly known as the post-vacation blues,a type of stressed or blue mood that can affect you in the period after returning from a long-awaited vacation.

Having to get back into the routine of work, like i said before, can be a source of distress, disorientation and discomfort.

a few tips to overcome this symptoms that i learn from another post-vacation-blues is by planning another vacation! :mrgreen:

you know life will be more easier if you know that you have another vacation to look forward to!

okay, my next vacation will be on October or November.. lets plan it and enjoy this-coming-back-to-work-after-long-vacation!

Fyi: i started my vacation from 24 July until today!

 

happy Monday everyone!

 

Ke jakarta pas puasa itu.. sesuatu

Jadi, besok ini kebagian tugas ke jakarta (lagi). Karena baru dr jakarta, maka anak2 tidak dibawa lagi, mengingat minggu depan juga akan ke jakarta (lagi) trus bablas cuti.

Nah berhubung rapatnya jam 10 which is tidak terlalu pagi, saya berangkat dan pulang dihari yang sama.

Padahal kan lumayan lihat ibu kota.. tapi karena bulan puasa dan juga saya pilek eh, gak ada hubungannya. Intinya, saya gak bisa jajan2 dijakarta.

Alamat bakal sahur dan buka di kebon dehh..

Yasudah, ini hanya pepesan kosong karena saya kangen pengen makan apple pie. Hmm.. bungkus bisa gak yaa?

image

TANTRUM ~ bukan mantra harry potter!

Kalau anda orang tua baru, atau anda memiliki seorang anak yang kerap kali mengamuk tanpa bisa dikendalikan (seperti halnya saya) maka anda perlu mengenal istilah ini:

TANTRUM

istilah lengkapnya adalah ‘temper tantrum’ keren ya? :mrgreen: *ditabok massa*

Pertama kali mendengar istilah ini, jujur saya gak ngeh kalau artinya adalah kondisi dimana seorang anak mengamuk tanpa bisa dikendalikan, saya justru keinget mantra-mantra harry potter! hahahaha.. tol** tingkat dewa!

mari kita kembali ke laptop!

Kenapa TANTRUM ini muncul diantaranya didasari oleh perasaan berikut ini:

Pertama, anak usia 2 – 3 tahun memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dan selalu ingin melakukan segala sesuatunya sendiri. Sayangnya keinginan itu sering lebih besar daripada kemampuannya, akibatnya anak frustasi dan keluar dalam bentuk amukan yang berlebihan dan tidak terkendali.

Kedua, anak baru menemukan ‘akunya’, lantas ‘kekuasaan’ yang baru dirasakan si kecil ini mendorongnya ingin menguji kekuasaan lingkungan utamanya orangtuanya. Sehingga ketika perilaku anak dihentikan atau keinginannya tidak terpenuhi, ia merasa frustasi karena anak yang ‘merasa gede’ ini ternyata masih kecil dan ‘dikalahkan’. Ia marah pada kenyataan ini dan mengekspresikannya lewat tindakan mengamuk karena belum mampu menampilkan amarah dalam bentuk kata-kata, di samping anak memang belum mampu mengelola emosinya dengan baik.

Ketiga, perilaku mengamuk untuk mendapatkan keinginannya sudah menjadi ‘tradisi’ sejak kecil dan lingkungan secara tidak sengaja membiasakan kondisi ini. Lantas bagaimana caranya menghadapi anak yang sedang tantrum ini? Secara umum yang terbaik adalah memakai prinsip umum pembelajaran dan menerapan disiplin, yaitu memberi penguatan pada perilaku yang benar dan memberi hukuman/mengabaikan perilaku yang salah.

ih.. saya kok pinter banget sii? belajar dimana? MBAH GOOGLE yang PINTER.

lalu, cari deh pake key word ‘atasi tantrum balita’ beberapa diantaranya akan muncul yang berikut ini, saya coba kumpulin dari berbagai sumber yaa 😀

Gali Penyebabnya
Cari tahu penyebab anak mengamuk tak terkendali. Mungkinkah ia mengamuk semata untuk mencari perhatian, demi mendapatkan suatu barang, frustasi terhadap suatu keadaan atau sedang lelah dan mengantuk. Kalau tahu penyebabnya, tentu lebih mudah untuk mengatasinya.

Jangan Berjanji Muluk
Anda tidak perlu memberi penguatan pada perilaku mengamuknya dengan menjanjikan akan membelikan sesuatu, karena justru akan dijadikan senjata bagi anak. Biarkan anak belajar merasakan kekecewaan. Dia harus belajar walaupun orangtuanya dapat mengerti perasaannya dan sayang padanya, tetapi tetap tidak dapat menerima perilaku mengamuknya.

Jangan Terpancing Emosi
Jangan membalas perilaku mengamuk anak dengan teriakan, kemarahan, pukulan balasan atau mengurungnya. Ini tidak akan berhasil sama sekali, karena anak akan bertambah mengamuk. Ia merasa sudah frustasi, sekarang ditambah perasaan ternyata orangtuanya tidak sayang lagi padanya.

Abaikan Amukan Anak
Umumnya tujuan utama anak mengamuk adalah mencari perhatian. Di saat seperti ini percuma jika Anda mencoba ‘berdiskusi dan merayu’ karena anak justru akan meningkatkan intensitas mengamuknya. Sebaliknya jika Anda mengabaikan amukannya maka lama kelamaan anak akan menyadari bahwa ‘aksiya’ ternyata sia-sia. Lebih baik tetap selesaikan tugas-tugas Anda atau kalau yakin segalanya cukup aman, tinggalkan saja ruangan tersebut. Dalam menjalankan metode ini, Anda harus menguatkan diri dan ‘tega’, karena anak pasti akan meningkatkan amukannya untuk mendapatkan perhatian lingkungan. Namun apabila Anda dan lingkungan cukup konsisten, cara ini biasaya cukup efektif.

Redakan Emosi Anak
Bawalah anak ke tempat sepi dan berusaha menenangkan emosinya dengan memeluknya erat-erat dan berusaha menunjukkan empati kepadanya. Latih anak mengenali emosi dan mengungkapkan secara verbal, misalnya ”Adik sedang marah ya, Mama tahu, makanya Mama peluk Adik karena sayang sekali”. Empati yang kita tunjukkan biasanya dapat meredakan emosinya. Kadang-kadang anak memang akan berusaha melepaskan diri dari pelukan kita, tetapi setelah agak tenang, biasanya dia akan berbalik memeluk kita seolah berterima kasih karena telah menyelamatkan dari kemarahan dirinya.

Kalau si kecil mengamuk di tengah keramaian dan mengganggu banyak orang, bawa ia ke tempat sepi. Katakan bahwa Anda dan dia akan tetap di sana sampai amukannya berhenti. Bertahanlah, kalau amukannya tidak juga reda, apa boleh buat, hentikan acara dan ajak anak pulang. Meskipun tampaknya berat, namun bertahan dalam kondisi ini dan akan sangat bermanfaat. Anak akan belajar sebab dan akibat dari perilakunya. Lambat laun anak akan mengerti dan terlatih untuk mengendalikan diri serta menyatakan amarahnya secara tepat.

Jangan Bahas Lagi
Kalau anak berhenti mengamuk, jangan tunjukkan perhatian khusus. Ajak saja anak bermain kembali seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Tidak usah lagi mengungkit-ungkit amukannya, karena itu hanya akan ‘memberitahu’ anak bahwa Anda sempat terganggu oleh amukannya, ia akan tergoda untuk mencobanya kembali lain kali. Berikut ini merupakan treatment untuk melatih kontrol emosi anak yang cukup besar terutama yang sudah mampu berkomunikasi dengan baik.

Pelampiasan Verbal
Ajari anak untuk mengenali perasaannya dan mengungkapkan secara verbal dengan bahasa yang dipahaminya sumber kemarahannya atau bad mood-nya. Misalnya, ”Putu rasanya ingin marah Bu Guru, kalau Kadek mengejek tulisan Putu seperti cakar ayam mencari cacing”.

Atau, ”Desy rasanya ingin marah, sudah jelas-jelas Nina menghilangkan mainan yang…… tadi dipinjamnya, en dia tak mau mengakui apalagi menggantinya”.

Untuk anak-anak yang lebih muda, mungkin Anda perlu membantunya untuk mengungkapkan rasa amarahnya dengan kata-kata Anda. Misalnya, ”Lusi sedang jengkel ya karena kotaknya sukar dibuka. Jangan dibanting dong, nanti jadi rusak dan tidak bisa dibuka. Bawa sini, Bu Guru ajarkan cara membukanya”.

Permainan Peran
Ajarkan anak-anak permainan peran untuk mengungkapkan perasaan dan menyalurkan amarah yang sedang mereka rasakan. Misalnya, Doni sangat marah karena Wayan mengejeknya, sehingga sebagai pelampiasannya Wayan dipukul. Yang harus Anda lakukan, cobalah tenangkan anak dengan memintanya menceritakan apa yang terjadi dan ”mementaskan’ setahap demi setahap peristiwa yang telah dialaminya. Secara tidak sadar setelah jadi ‘aktor’, anak akan merasa emosinya sudah mereda karena secara tidak langsung amarahnya sudah tersalurkan lewat ‘permainan peran’ tersebut.

Peningkatan Empati
Ajak anak melihat dan merasakan apa akibat yang terjadi terhadap subjek yang jadi korban kemarahannya. Misalnya, Wayan yang menangis akibat dipukul dan dijambaknya atau orang bisa tersinggung kalau dicaci-maki dengan bahasa yang kotor. Ajak anak membayangkan bagaimana kalau dia yang menjadi korban kemarahan. Bagaimana anak menjadi pintu atau meja yang dipukul dan ditendangnya.

Relaksasi Napas dan Pendinginan
Latih dan ajarkan anak mengendalikan amarahnya dengan relaksasi pernapasan. Tariklah napas perut, tahan sebentar, kemudian keluarkan melalui mulut secara perlahan-lahan. Lakukan sekitar 3-5 kali, lalu minta anak berbicara sambil mengatur napas: Sa-ya-se-dang-me-nge-lu-ar-kan-ra-sa-ma-rah. Sa-ya-ti-dak-bo-leh-me-mu-kul. Sa-ya-se-ka-rang-te-nang-te-nang-te-nang. Pendinginan juga boleh Anda ajarkan, biarkan anak berjalan-jalan ke tempat yang agak tenang, ke kebun di belakang rumah misalnya, yang penting menghindari sumber rasa marahnya terlebih dulu. Mencuci mukanya atau melakukan wudhu bagi yang Muslim dapat pula dicobakan. Bagi anak-anak yang cukup besar, Anda dapat mengajarkan doa-doa tertentu untuk mengendalikan rasa marahnya.

Ruang dan Sarana Kemarahan
Ada sejumlah anak yang tergolong memiliki temperamen tinggi dan emosi labil, membutuhkan pelampiasan rasa marah dengan cara yang lebih bersifat fisik. Sediakan kesempatan dan sarana untuk itu. Misalnya, bantal khusus atau karung berisi kapas yang bisa dipukul atau ditendangnya, kamar khusus/ kedap suara yang dapat dipakainya untuk menyanyi sekeras-kerasnya, atau kanvas dengan cat warna-warni yang dapat dilukis semaunya untuk menyalurkan amarahnya. Untuk anak-anak usia 6 tahun ke atas memasukkan mereka ke kegiatan bela diri juga dapat membantu melatih pengendalian dirinya.

Reinforcement/ Penguatan Perilaku Positif
Beri penguatan pada pengendalian perilaku marahnya. Berikan pujian, senyuman atau pelukan hangat ketika anak mampu mengendalikan amarahnya dengan tidak mencaci maki atau memukul. Untuk anak-anak yang cukup besar sistem kartu atau bintang dapat diterapkan. Tiap anak yang mampu mengendalikan rasa marah, maka akan mendapat kartu atau bintang hijau yang dapat dikumpulkannya untuk mendapatkan hadiah tertentu. Jika anak tidak mau atau gagal mengendalikan amarahnya bahkan sampai memukul misalnya, berikan kartu atau bintang merah dan berikan konsekuensi hukuman bagi perilaku memukulnya, tentu saja hukuman sesuaikan dengan usia anak. Meminta maaf biasanya sangat manjur bagi anak-anak yang lebih besar.

nahhh.. kalo masih kurang jelas, silahkan tanya persisnya ke mbah gugle yaakkk!. lalu apakah saya sudah bisa mengatasi TANTRUM pada anak saya? ahh.. jangan ditanya, saya malu jawabnyaa.. hihihihihi

BALANCE

*WARNING: This is an awckward and not so-good-post-in-english entry so apologies in advance. :mrgreen:

When talking about BALANCE, usually there are alot of words come and pop up in my mind. Family, Career, Interest, Love Life, Community, Health, Financial, and many more.

Than an idea of me being awarded as the best mother on earth, the best wife, coming in one package with succes in financial and work life cross my mind!

WOW, sounds like a lot!

I know, but all things are possible. Because our lives are always changing, balance is not something to be achieved “just once” but something to always strive for.

When I decided to write this blogpost as I will be speaking on the topic of Balancing Work and Life but than everything keep coming in my mind, so there are more than just Work and Life.

Even as a Libra, which is Libra identic to the scale that signifies balance, it doesn’n mean that i could smoothly writing on this topic.

In the end, I only got an image of me being around doing like 20 to 30 things at the same time. and stuck on it.

So, What does Balance mean for YOU?

Hotel Hell

*WARNING: This is an awckward and not so-good-post-in-english entry so apologies in advance.

Has anyone ever seen this show?

well, i love sexy-gordon-ramsay in the intro! hahaha. thats the first reason why i continued to watch #hotelhell and got addict in to it!

surely i’m addicted to masterchef US, mention all season, i knew it, and keep watch the re-run. than, lets say hell’s kitchen!

okay, i love gordon ramsay. happy?

hahaha!

it always lovely to see talented man. he can cook. he has his strong leadership. plus he can manage anything!

 

thank you for reading :mrgreen:

it just a note. another note.