Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

~ inspirasi bisa datang dari mana saja. Saya menulis postingan ini sambil menyanyikan Hymne Guru.

Bukan bermaksud melupakan jasa Bapak dan Ibu guru maupun Bapak dan Ibu dosen saya sebelumnya, hanya saja, mungkin karena memori jangka panjang saya sering kali terganggu, mendengar lagu Hymne Guru ini, saya langsung saja teringat momen wisuda bersama teman-teman Magister Kenotariatan (M.Kn) Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang beberapa saat yang lalu.

Momen dimana kami berdiri, bersama-sama menyanyikan hymne guru, sementara para guru besar dan senat berdiri di hadapan kami, terlintas begitu saja. Sseolah membawa saya kembali kepada saat-saat dimana Saya larut dalam suasana haru, dengan khidmat saya ikut menyanyikan lagu ciptaan Eyang Sartono tersebut bersama-sama dengan adik-adik paduan suara UNDIP.

Lalu, siapakah gerangan yang terlintas dalam ingatan saya saat itu?

Bukan Bu Ririn, guru TK saya.. bukan.

Bukan Pak Boedi, guru favorit saya saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Bukan.

Bukan Bapak (Ust.) Candy, guru komputer saya saat saya mengenyam bangku sekolah menengah di PPMI Assalaam, yang nama aslinya C.ANDI entah siapa. Bukan.

Bukan pula Pak Bambang, guru kimia favorit Saya yang selalu memberi nilai baik pada setiap muridnya saat saya sedang mengenakan seragam putih abu-abu menyelesaikan pendidikan menengah atas saya. Bukan.

Bukan Bapak Dr. Yuswanto, S.H.,M.H. dosen pembimbing saya saat menyelesaikan skripsi S1 saya. juga dosen mata kuliah hukum Pajak, mata kuliah favorit saya, bahkan beliau pernah meminta saya menjadi asistennya. Bukan.

Bukan pula Pak Ichsan Sahlan Chan, guru bahasa inggris saya dan pembimbing Tugas Akhir Pendidikan D1 saya.. Bukan.

Bukan Ibu Saya, meskipun beliau adalah ‘Guru’ Pertama saya.. Bukan.

Bukan kakek saya, figur yang selama ini mengisi hari-hari saya dengan pelajaran menggambar, meski bagi banyak orang beliau adalah sosok yang dikenang sebagai Guru dalam arti yang sebenarnya.. 🙂

Meski, sosok mereka jelas memiliki peranan yang sangat penting dalam hidup saya, terutama dalam hal memberikan pendidikan.

Sekali lagi, tanpa bermaksud mengecilkan arti Guru-Guru yang pernah hadir dalam hidup saya, saya mengenang beliau..

Lalu, Siapakah Beliau?

Beliau adalah Bapak Noor Rahardjo, S.H.,M.Hum, dosen hukum pajak saat saya menempuh kuliah di Magister Kenotariatan UNDIP.

Beliau juga pembimbing tesis Saya. yang dengan tulus ikhlas membimbing. bahkan beliau melarang Saya dan semua mahasiswa bimbingannya untuk membawakan buah tangan sekedarnya saat kami terpaksa harus bimbingan ke rumah beliau.

Pak Noor, begitu sapaan akrabnya.

Pak Noor yang juga dosen Ayah saya semasa beliau muda dulu.

Pak Noor yang lekat dengan kesederhanaannya.

Pak Noor yang sosoknya menua ditengah buku-buku hukum pajak.

Pak Noor dan ingatan tajamnya akan semua undang-undang.

Pak Noor dan Idealisme nya.

Pak Noor dan Prinsip-prinsip hidup yang beliu tularkan kepada kami mahasiswa bimbingannya.

Hari ini, mendadak saya ingat Pak Noor ketika menulis dengan tema “Guruku, Pahlawanku”.

Semoga makin banyak sosok Guru seperti Pak Noor yang berwibawa, menjunjung tinggi harkat dan martabat Guru, memiliki Prinsip yang layak dicontoh, dan banyak hal lain, termasuk Kesederhanaan beliau yang patut di contoh.

Beliau adalah sosok Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang patut dijadikan teladan.

Teriring do’a semoga Pak Noor selalu sehat dan sukses 🙂

 

tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar “Guruku Pahlawanku”

5 hal yang ngangenin dari kota Semarang

*posting sedang mendadak kangen kampung halaman*

1. Bapak, Mamah, dan adek-adekku.. 🙂

Ibarat peribahasa (which is katanya adalah pepatah cina) :

DARAH LEBIH KENTAL DARI PADA AIR 

yang artinya, bisa dicari sendiri, nanya ke Pak Guru atau Bu Guru gitu.. atau kalo mau, boleh deh nanya sama si mbah gugle :mrgreen:

Bapak sama Mamah, mereka ber-2 adalah orang-orang yang benar-benar TIDAK AKAN PERNAH bisa dipisahkan dari saya (secara emosional), karena bagaimanapun, mereka adalah orang pertama yang saya kenal, orang yang pertama kali MENCINTAI saya tanpa syarat.. 🙂

kalo sama adek-adek saya.. hmm.. kasih tau gak yaaa.. hihihi.. mereka yang kadang menjengkelkan ini, ternyata bisa  jugaa membuat saya kangen.. :))

hmm.. susah diungkapkan dengan kata-kata, meskipun kalo kumpul isinya berantem.. tetep doonggg.. selalu kangen ^^

2. Oemah Tanah Putih

rumah yang sekarang sama Bapak dan Mamah dibikin guest house ini.. punya suasana unik yang gak didapat dimana-mana.. 🙂 di tengah kota, tapi tidak terlalu rame.. dipinggir jalan raya, tapi gak terlalu ke pinggir.. 🙂 malam hari bisa lihat kota semarang dari atas yeay! 🙂

ngomong-ngomong soal membuat rumah ini jadi guest house, mari jadikan ini next project saya.. 🙂 udah pernah janji sama Bapak mau buatin web untuk ngiklanin ini rumah. trus kalo ada yang tau, gimana cara kerjasama dengan jaringan penawaran hotel terluas itu.. coba yaa infonya dibagi-bagi.. (loh kok malah nanya) 😀

3. Kuliner Khas Semarang

Kuliner Khas semarang (yang saya suka) sebut saja, LOENPIA SEMARANG yang saya suka, Mba Lien, menampilkan foto si mbak di banner yang terpampang di gerobaknya ini seolah ngawe-awe saya supaya mampir.. ahh.. ngecesss..

sayang kompi saya tidak menyimpan foto penampakan loenpia mbak lien 🙂

salah satu ‘show room’ loenpia mba lien adalah:

Loenpia Mbak Lien
Jl Pemuda
Telp (024) 3580734 / 7620015
Jl Pandanaran (depan Bandeng Juwana)
Telp 081 824 2086
Semarang

ulasan lengkap loenpia mba lien ada di blog sebelah 🙂 ada fotonya jugaaaakkk ^^

sebenernya ada banyak lagi kuliner khas semarang, semisal SOTO PAK NO (favorit Bapak saya), Bandeng Presto yang entah kenapa saya selalu dibeliin yang merek JUWANA sama mamah.. 🙂 belum lagi SATE dan GULE KAMBING 29 (yang ini ada fotonyaa.. )

photo by @buzzcoro

me with bu wiwit dan de adam, photo by @buzzcoro

versi lengkap kuliner semarang (menurut saya cukup lengkap) sudah pernah di rilis disini.

4. Tempat Jajan Favorit di Semarang

kalo ditanya tempat jajan favorit.. hmm.. langsung deh keinget Taman segitiga dibelakang ACE (living plaza), *ihik*

bukan karena kenangan apa yaa.. saya gak pernah punya pacar orang semarang sii.. (terus?) hihihihi.. lebih kepada saya bisa makan macem-macem disinii, apa aja? es dawet duren, somay, dan bakso lengkap! semua ada disitu.. :D..

5. Kampus dan teman-teman tercintah

hal tidak penting yang perlu diketahui, adalah, saya alumni UNDIP lohhh.. (terus kita harus bilang WOW gitu?! :mrgreen: nope, tapi saya bangga jadi alumni UNDIP) *nyanyi hymne*

Panji Diponegoro tetap di angkasa
berkibar senantiasa teladan utama

Api semangat menyala baka dalam dada
jayalah Diponegoro, almamater kita

Di bawah naunganmu, tercapai cita-cita
teguhkan semangatmu, menjunjung nusa bangsa

Semoga abadi jiwamu, bertahta di kalbu
Dirgahayulah dirgahayu, nusa dan bangsaku

aahh.. jadi inget momen wisuda sama temen-temen Magister Kenotariatan Undip angkatan 2010 😦 kangennn..

mba tati, mba melan, mba erlly, mba era, neng zea, mita, dan semua teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.. 😦

well, benerkannn.. saya jadi pengen pulang ke semarang.. hiks!

*ambil kalender*

 

liburan kapan siii? Yuk VISIT SEMARANG!

 

 

 

tulisan ini diikut sertakan dalam #ligabloggerindonesia yang hadiahnya dipersembahkan oleh @dotsemarang

[serius] ini tentang: Kode Etik

kode etik atau bahasa kerennya code of conduct ataupun code of ethics 😈 whatever lah.. aku gak pinter bahas inggris.. gyahahaha..

apapun itu, kode etik bukannya kode nya mpok etik #dijitakbuliketik :mrgreen:

lalu, apa itu? saya coba searchin di gugle, ini adalah yang paling pas dihati (sumbernya: ini) *haish lebaynya kumat 😉

Kode Etik Dapat diartikan pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku.

Dalam kaitannya dengan profesi, bahwa kode etik merupakan tata cara atau aturan yang menjadi standart kegiatan anggota suatu profesi. Suatu kode etik menggambarkan nilai-nilai professional suatu profesi yang diterjemahkan kedalam standaart perilaku anggotanya. Nilai professional paling utama adalah keinginan untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat.

Nilai professional dapat disebut juga dengan istilah asas etis.(Chung, 1981 mengemukakan empat asas etis, yaitu : (1). Menghargai harkat dan martabat (2). Peduli dan bertanggung jawab (3). Integritas dalam hubungan (4). Tanggung jawab terhadap masyarakat.

Kode etik dijadikan standart aktvitas anggota profesi, kode etik tersebut sekaligus sebagai pedoman (guidelines). Masyarakat pun menjadikan sebagai perdoman dengan tujuan mengantisipasi terjadinya bias interaksi antara anggota profesi. Bias interaksi merupakan monopoli profesi., yaitu memanfaatkan kekuasan dan hak-hak istimewa yang melindungi kepentingan pribadi yang betentangan dengan masyarakat. Oteng/ Sutisna (1986: 364) mendefisikan bahwa kode etik sebagai pedoman yang memaksa perilaku etis anggota profesi.

Konvensi nasional IPBI ke-1 mendefinisikan kode etik sebagai pola ketentuan, aturan, tata cara yang menjadi pedoman dalam menjalankan aktifitas maupun tugas suatu profesi. Bahsannya setiap orang harus menjalankan serta mejiwai akan Pola, Ketentuan, aturan karena pada dasarnya suatu tindakan yang tidak menggunakan kode etik akan berhadapan dengan sanksi.

nah, pembentukan kode etik itu sendiri fungsinya adalah (1). Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah. (2). Mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu profesi. (3). Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi.

terus, berikut adalah profesi yang memiliki kode etik yang harus dipatuhi:

(1). Dokter, (2). Guru, (3). Advokat, (4). Notaris, (5). Peneliti (6). Jurnalis, (7). consultant oriflame (itu lohh MLM, masa ndak tau? NDESO! xixixixi)

kalo yang nomer 3,4, dan 7 boleh deh tanya ke sayaa.. nanti saya jelasin.. 😀 atau kalo mau ndaptar propesi yang nomer 7 juga boleh ke saya.. *gyahahaha.. :mrgreen: kenapa ujung-ujungnya promosi yaa? udah ah.. orang awalnya saya bener-bener cuma mau men-edukasi publik loohhh.. hihihihi..

mohon dimaafkan.. 😀

 

xoxo

 

ratutebu ~ blogger pasang surut *opothoiki? mbuh! #abaikan :mrgreen:

mbah gugle emang pinterrrr

well, saya yang lumayan repot karena mesti kuliah sambil kerjaaa..

^bwt yang belom tau.. sayah ini bolak balik lampung semarang stiap mingguuu, jadi kalo ada yg maw nitip kirim paket boleh laaahhh :p

naaahh, kembali ke judulnyahh.. mbah gugle itu pinter karena bantu saya bikin tugas.. hehe.. :mrgreen: ini hari udah kamis aja, besok saya udah berangkat ke semarang lagi, sementara ituu.. tugas belom dibuat.. iseng-iseng nanya mbah gugle..

apa bedanya legalisir, legalisasi dan waarmerking?

simple nya si saya tinggal ketik: legalisir, legalisasi dan waarmerking

yang meski sudah ada di Pasal 15 UUJN, tetep aja saya repot kalo kudu ngejabarinnyaa lagiihhh.. xixixixixi

ini dia isi pasal 15 UUJN:

(1.)           Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundangundangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.

(2.)           Notaris berwenang pula :

a.  mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

b. membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam  buku khusus;

c. membuat kopi dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;

d.  melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya;

e.  memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta;

f.   membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau

g.  membuat akta risalah lelang.

(3.)           Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

artinyahhh.. hanya ada legalisasi, waarmerking dan copie collationnee

dan mbah gugle yang pinter dan baik hati ini memberi jawaban lengkapnyaaahhhh..

Sebagi ilustrasi seseorang datang ke Kantor Notaris dan menyatakan dia ingin me legalisasi atau me legalisir dokumen yang dimilikinya. Dokumen itu berisikan perjanjian yang telah dibuat di bawah tangan dengan tanda-tangan para pihak di atas meterai.

Ternyata yang dimaksudkan orang tersebut dalam istilah kenotariatan adalah bukan legalisasi melainkan Waarmerking. Memang dalam pengertian yang diketahui secara umum hal yang ingin dilakukan orang tersebut adalah legalisasi, tapi yang sebenarnya adalah bukan legalisasi sebagaimana pengertian hukum yang sebenarnya. Tapi Waarmerking. Kenapa Waarmerking ? karena dokumen perjanjian tersebut dibuat oleh para pihak sendiri dan telah ditanda tangani para pihak sebelumnya pada suatu saat tertentu. Sehingga apabila di bawa ke Kantor Notaris maka hanya bisa didaftarkan pada buku daftar Surat di Bawah Tangan yang ada pada Kantor Notaris tersebut.

Legalisasi dalam pengertian sebenarnya adalah membuktikan bahwa dokumen yang dibuat oleh para pihak itu memang benar-benar di tanda tangani oleh para pihak yang membuatnya. Oleh karena itu diperlukan kesaksian seorang Pejabat Umum yang diberikan wewenang untuk itu yang dalam hal ini adalah Notaris untuk menyaksikan penanda tanganan tersebut pada tanggal yang sama dengan waktu penanda tanganan itu. Dengan demikian Legalisasi itu adalah me-legalize dokumen yang dimaksud dihadapan Notaris dengan membuktikan kebenaran tandan tangan penada tangan dan tanggalnya.

Selain Waarmerking dan Legalisasi sebagaimana tersebut diatas, biasanya para pihak juga melakukan pencocokan fotocopy yang kadangkala diistilahkan dengan istilah yang sama yaitu legalisir.

 

Pengertian2 tentang ke tiganya

1. Legalisasi

Artinya, dokumen/surat yang dibuat di bawah tangan tangan tersebut ditanda-tangani di hadapan notaris, setelah dokumen/surat tersebut dibacakan atau dijelaskan oleh Notaris yang bersangkutan. Sehingga tanggal dokumen atau surat yang bersangkutan adalah sama dengan tanggal legalisasi dari notaris. Dengan demikian, notaris menjamin keabsahan tanda-tangan dari para pihak yang dilegalisir tanda-tangannya, dan pihak (yang bertanda-tangan dalam dokumen) karena sudah dijelaskan oleh notaris tentang isi surat tersebut, tidak bisa menyangkal dan mengatakan bahwa ybs tidak mengerti isi dari dokumen/surat tersebut.

Untuk legalisasi ini, kadang dibedakan oleh notaris yang bersangkutan, dengan Legalisasi tanda-tangan saja. Dimana dalam legalisasi tanda-tangan tersebut notaris tidak membacakan isi dokumen/surat dimaksud, yang kadang-kadang disebabkan oleh beberapa hal, misalnya: notaris tidak mengerti bahasa dari dokumen tersebut (contohnya: dokumen yang ditulis dalam bahasa mandarin atau bahasa lain yang tidak dimengerti oleh notaris yang bersangkutan) atau notaris tidak terlibat pada saat pembahasan dokumen di antara para pihak yang bertanda-tangan.

2. Register (Waarmerking)

Artinya, dokumen/surat yang bersangkutan di daftar dalam buku khusus yang dibuat oleh Notaris. Biasanya hal ini ditempuh apabila dokumen/surat tersebut sudah ditanda-tangani terlebih dahulu oleh para pihak, sebelum di sampaikan kepada notaris yang bersangkutan.

Contohnya: Surat Perjanjian Kerjasama tertanggal 1 Januari 2008 yang ditanda-tangani oleh Tuan A dan Tuan B. Jika hendak di legalisir oleh Notaris pada tanggal 18 Januari 2008, maka bentuknya tidak bisa legalisasi biasa, melainkan hanya bisa didaftar (waarmerking) saja.

Jika ditinjau dari sudut kekuatan hukumnya untuk pembuktian, maka tentu saja lebih kuat Legalisasi daripada Register (waarmerking). Ada dokumen-dokumen tertentu yang akan digunakan sebagai kelengkapan suatu proses mutlak diminta harus dilegalisir, misalnya: di kantor Pertanahan, surat persetujuan dari ahli waris untuk menjaminkan tanah dan bangunan, atau surat persetujuan isteri untuk menjual tanah yang terdaftar atas nama suaminya dan lain sebagainya. Kalau surat/dokumen tersebut tidak dilegalisir oleh notaris, maka biasanya dokumen tersebut tidak dapat diterima sebagai kelengkapan proses Hak Tanggungan atau jual beli yang dimaksud. Terpaksa pihak yang bersangkutan harus membuat ulang persetujuan dan melegalisirnya di hadapan notaris setempat.

 

Selain Waarmerking dan Legalisasi sebagaimana tersebut diatas, biasanya para pihak juga melakukan pencocokan fotocopy (copie Collationnee) yang kadangkala diistilahkan dengan istilah yang sama yaitu legalisir. (istilah inilah yang salah kaprah)

 

3. Pencocokan Foto Copy (Copie Collationnee)

Dalam prakteknya hal yang dilakukan untuk istilah legalisir ini adalah mencocokan fotocopy suatu dokumen dengan aslinya dengan judul Pencocokan Fotocopy. Pada fotocopy tersebut akan di-stempel/cap disetiap halaman yang di fotocopi dengan paraf Notaris dan halaman terakhir dari Pencocokan Fotocopy tersebut akan dicantumkan keterangan bahwa fotocopy tersebut sama dengan aslinya.


benerkan sayah bilang.. mbah gugle emang pinteeerrr.. 😀