complexity of living in the complex

gila deeeng.. maksudnya kita apa, malah jadi bahan gosip begini

~ keluhan seorang teman

ehm..

saya tersenyum membayangkan dia yang sedang jadi trending topic di komplek ini. *uhuk* seketika saya teringat beberapa waktu lalu saya adalah orang yang dijadikan bahan omongan itu, dengan banyak bahasa yang hmm.. menurut saya kurang enak di dengar.. tapi toh akhirnya gosip, isu, apapun namanya itu hilang dengan sendirinya..

jadi adalah ‘sabar’ yang saya sarankan kepada teman saya itu.. *eh, perlukah aku mention dirimuhh hai nona seksii? :mrgreen:

ah sudahlah..

saya menyebutnya sebagai kompleksitas hidup disebuah komplek. apalagi komplek yang ini sedikit lebih eksklusif dibanding komplek lain yang bisa anda bayangkan.. :nerd:

bukan karena kami merasa eksklusif ya.. lebih karena kami tinggal di lingkungan perumahan dengan orang-orang yang bekerja bersama dalam satu perusahaan, dan bila itu saja belum cukup, tambahkan lingkungan kebun yang sedikit jauh dari kota terdekat, sehingga kami lebih banyak membangun lingkungan kami, serta makin betah di dalamnya.

adalah membicarakan orang lain yang sekomplek dengan kami termasuk dalam agenda yang harus dilakukan sepertinya.. hanya bagi sebagian kelompok tentunya.. *tanpa perlu saya tunjuk kelompok yang mana*

tapi eits.. tunggu dulu.. apakah itu buruk?

tidak selalu..

bayangkan kalau kita dikota besar, dimana tidak seorangpun peduli akan apa yang kita lakukan? ehmm.. saya si lebih nyaman dengan kondisi banyak orang yang mengawasi saya dan anak-anak saya..

bayangkan ketika hanya malaikat yang mengawasi kita.. yakinkah kita mampu menjaga sikap, tindakan, maupun kelakuan kita? harusnya yakin.. tapi toh tetap saja ada orang lain yang mengawsi kita itu semacam bonus tambahan untuk kita lebih hati-hati dalam bertindak..

nah, tergantung bagaimana kita menyikapinya kan?

jadi, siapapun kamu, kalo sedang jadi trending topic, saran saya.. sabar sajaa.. nikmati sajaa.. :mrgreen:

itu kan cuma bagian dari kompleksitas hidup di dalam komplek 🙂

menurut kamu, bagaimana?

Transformer eh bukan, Transform, halah Transformasi (saja)

*judul yang aneh* #abaikan

ceritanya beginih.. (mohon disimak baik-baik).

mengingat: saya bukan lagi abege :mrgreen:

nahh.. apakah sebaiknya blog ini:

1. Saya hapus semua, bikin blog baru misal: emakratutebu.wp gituuu..

2. biarin aja

3. hapus posting masa lalu (?)

toloooooong.. usulan.. 🙂

kan saya mau ganti imej gituu *halah*
dan demi menjaga perasaan pihak-pihak yang berkepentingan.

mohon maaf lahir dan batin *eh?

Tentang Merek Dagang

Merek adalah suatu “tanda” yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa.
Masa berlaku merek 10 tahun sejak terdaftar dan bisa diperpanjang setiap 10 tahun berikutnya.
BAGAIMANA CARA MENDAFTARKAN MEREK DAGANG ?
Suatu permohonan untuk pendaftaran merek dagang harus diterima oleh Kantor Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Permohonan harus mencantumkan etiket merek, termasuk semua jenis warna, bentuk, atau bentuk 3 dimensi. Apabila etiket merek menggunakan bahasa asing atau menggunakan huruf/angka yang tidak lazim digunakan dalam bahasa Indonesia, harus disertai dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Permohonan harus juga dilengkapi dengan daftar barang atau jasa yang akan diberi tanda/merek tersebut. Tanda tersebut harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar dapat dilindungi sebagai suatu merek dagang atau tipe merek lain. Merek dagang harus memiliki daya pembeda, sehingga pelanggan dapat membedakan, mengidentifikasi suatu produk tertentu terhadap produk yang lain, Merek dagang tidak boleh membingungkan pelanggan atau melanggar norma kesopanan atau moralitas.
Selain itu, permohonan merek juga harus mencantumkan surat pernyataan bahwa merek yang akan didaftarkan adalah miliknya, juga surat kuasa apabila permintaan pendaftaran merek diajukan melalui kuasa, serta membayar seluruh biaya.
Langkah-Langkah Pendaftaran Merek:

Berikut ini adalah tahap yang harus dilalui seorang produsen atau pengusaha dalam mendaftarkan merek dagangnya:

Pertama, pengusaha mencocokkan merek dagang yang akan didaftarkan dengan daftar umum merek yang dikeluarkan Ditjen HAKI.
Daftar umum merek adalah daftar merek dagang yang sudah diakui oleh Ditjen HAKI. Bila pengusaha mengalami kesulitan, dapat meminta bantuan kuasa hukumnya.

Kedua, menyerahkan persyaratan administrasi.
Pemohon sertifikat merek dagang dibedakan antara perorangan dan badan hukum atau perusahaan. Namun, pada prinsipnya, persyaratan administrasinya tidak berbeda jauh antara pemohon perorangan dan perusahaan.

Beberapa persyaratan administrasi yang harus dipenuhi pemohon, antara lain:
1. mengisi formulir dengan diketik rapi dan menggunakan bahasa Indonesia
2. menyertakan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP).
Untuk perusahaan, menggunakan KTP direktur dan fotokopi akta badan hukum yang sudah dilegalisasi.
3. fotokopi nomor pokok wajib pajak (NPWP)
4. surat pernyataan dan surat kuasa bermaterai.

Ketiga, menyerahkan gambar merek yang akan didaftarkan.
Gambar merek tersebut dibuat sebanyak 24 helai dengan ukuran minimal 2 x 2 cm dan maksimal 9 x 9 cm. Untuk gambar yang berwarna, disertakan satu buah fotokopinya.

Keempat, membayar biaya pendaftaran atau perpanjangan merek. Besarnya biaya seperti yang telah disebutkan di atas dan dibayarkan melalui Bank atas nama Ditjen HAKI, Departemen Hukum dan HAM.

Selanjutnya, bila syarat kedua dan ketiga sudah dipenuhi dan disetujui oleh Ditjen HAKI, pemohon akan memeroleh surat pemberitahuan bahwa persyaratan formalitas sudah dipenuhi.

Kelima, pemeriksaan lebih rinci atas merek yang didaftarkan.
Barang dan jasa yang didaftarkan diverifikasi sesuai dengan kelompoknya. Untuk keperluan pendaftaran merek, Indonesia masih berpedoman pada klasifikasi internasional yang membagi barang dan jasa sebanyak 45 kelompok. Pedoman klasifikasi ini disahkan melalui perjanjian Nice pada 15 Juni 1957. Perjanjian tersebut sudah direvisi dua kali. Pertama, pada 14 Juli 1967 direvisi di Stockholm, Swedia, dan sepuluh tahun kemudian direvisi di Jenewa, Swiss pada 13 Mei 1977.

Lamanya mengurus pendaftaran merek sekitar sembilan bulan, yang dilanjutkan dengan pengumuman ke masyarakat dalam bentuk berita resmi merek (BRM) selama tiga bulan. Bila selama tiga bulan tidak ada yang keberatan, pada bulan ke-14, Ditjen HAKI mengeluarkan sertifikat merek. Namun, bila ada pihak-pihak yang keberatan atas BRM yang dikeluarkan Ditjen HAKI, perlu waktu beberapa bulan lagi untuk keperluan peradilan.

Biaya pendaftaran merek diperkirakan sekitar Rp. 1.750.000,- sampai dengan Rp. 2.000.000,- (diurus sendiri)

Catatan : selama proses pendaftaran hingga keluarnya sertifikat dari Ditjen HAKI, pemohon tidak berhak menggunakan merek tersebut untuk keperluan bisnisnya. Dengan kata lain, penerapan UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek itu penting. Tujuannya tiada lain agar produsen terlindungi atas hak cipta produknya. Yang perlu dilakukan sekarang adalah sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya perlindungan sebuah merek. Dengan adanya perlindungan merek dangang, bukan hanya produsen yang diuntungkan, konsumen pun akan merasakan hal yang sama.

repost dari blog saya disebelah

I am Legend sitting duck

oke! begini ceritanyah.. #prikitiew

jadi, karena akhir-akhir ini anak-anak di rumah omanya, mulailah saya ikutan sekolah forex yang belajarnya online, temen2 di kantor juga ada beberapa yang dapet untung berlipat-lipat! huebaaaatttttt.. 😎

semangat deh sekolah lagiii.. nah sekolah disinih kelas pemula seperti sayah tergabung dalam kelas Sitting Duck! bebek duduk? oh no! gajah duduk? sarung itu siihh..

Sitting Duck Class adalah istilah yang dipakai untuk pemula yang masih awam soal investasi bidang inih.. istilah bahasa indonesianya bukan bebek duduk seperti yang aku bilang, tapi sasaran empuk.. jadi isi kurikulumnya adalah pelajaran tentang investasi umum, dan jugah soal pengertian forex.

nah, hari ini saya baru belajar tentang kenapa saya masuk kelas inih.. 😀 jadi saya belum bisa bagi ilmu yaaa.. next time saya tulis lagihhh..

kelas selanjutnya ada walking lamb grade, running pig sama hunting fox. tapi sepertinya saya masih bakal lama duduk dikelas bebek iniihh.. hihihihihi..

pertemuan yang akan datang akan membahas soal struktur dunia investasi.. hedehh.. makanan apa pulakkkk! 🙄

barangkali ada yang sekelas sama akyuuuu? #titipabsen yakkk! :mrgreen: