entah kapan terakhir kali aku bertemu sahabatku semasa putih abu-abu ini, padahal dulu kami sering duduk dibangku kantin menikmati pastel sederhana ala kantin sekolah yang dibandrol 5oo rupiah, ah.. tentusaja dimasa itu aktifitas ini sangat menyenangkan..

tak jarang kami dan beberapa orang teman lain, duduk bersama di pojokan kantin demi menikmati bakso setelah olahraga, sampai terkadang lupa bahwa pelajaran selanjutnya sudah dimulai.

sahabatku itu [dulunya] siswi pindahan dari aceh.. sedikit lain dari aku yang [ga mau dibilang] pecicilan, dia tipikal orang yang santun, lemah lembut, dewasa, dan keibuan..

selama kuliah pun, [kuakui] kami tidak pernah berkomunikasi.. [sudah seharusnya] sekarang saiia berterimakasih pada situs pertemanan yang mempertemukan kami kembali.

kini ia kembali ke aceh, untuk membangun daerah kelahirannya itu melalui bidang pendidikan, hmmm.. tak heran ia menggambil jalur pendidikan ini, karena memang dari penampilannya, sikapnya yang lembut dan penuh kasih ituu.. [pasti jadi guru favorit :) ].

hari ini, sebuah pesan darinya nangkring di inbox ku [dan mungkin beberapa teman laiinya], tentang kisahnya [kalau boleh saya bilang: perjuangannya] memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anak di aceh.

ini dia suratnya [saya copy paste dari inbox]

Dear My Friendz…

Seperti yang kalian ketahui, 3 tahun terakhir ini dian bekerja di sebuah sekolah yang didirikan melalui dana sumbangan “Indonesia Menangis” yang dikumpulkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia bagi para korban tsunami dan konflik di Aceh.
Sekolah tersebut didirikan di atas lahan seluas lebih kurang 7 Ha. Sekolah dengan fasilitas yang hampir sempurna.
Pada awalnya sekolah tersebut memberikan pendidikan gratis bagi seluruh siswa yang berasal dari seluruh kabupaten dan kotamadya di propinsi Aceh, dengan syarat bahwa mereka miskin, korban tsunami, korban konflik, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Namun lambat laun, sumbangan mulai menipis. Orang-orang mulai lupa dengan bencana itu. Dan kini, untuk terus bertahan, sekolah juga akhirnya membuka kelas “non reguler” yaitu kelas bagi siswa yang mampu membayar biaya partisipasi pendidikan (BPP), hingga murid-murid yang mendapatkan beasiswa penuh mendapatkan bantuan subsidi dari teman-temannya yang membayatr BPP.
Tapi sayangnya, subsidi dari BPP dan bantuan dari pemerintah masih belum memenuhi kuota biaya yang dibutuhkan sekolah untuk beroperasi. Oleh sebab itu, Dian memohon bantuan teman-teman sekalian untuk menyisihkan sebagian dari penghasilannya bagi pendidikan anak-anak Aceh di sekolah Sukma Bangsa Pidie. Kami akan sangat senang sekali apabila teman-teman juga mau menjadi orangtua asuh bagi murid-murid kami yang terbagi atas 3 grade, yaitu : SD, SMP, dan SMA.
Sumbangan bisa dikirim melalui rekening LSM

“Lembaga Sukma Mandiri”, ke no rek :

0169850365
a.n Sdr. Baihaqi
BNI Cab. Sigli

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi no telp berikut ini :
Dian_085269957888
Baihaqi_085260135539

Bila ada waktu dan kesempatan, mampirlah ke sekolah kami yang beralamat di :
Komp. Sekolah Sukma Bangsa Pidie
Gampong Pineung, Kec. Peukan Baro
Kab. Pidie

Terimakasih untuk dedikasi yang diberikan oleh teman-teman sekalian. Semoga sumbangan yang diberikan dengan keikhlasan hati, dapat membantu pendidikan bagi anak-anak Aceh.

Hormat Saya,

Dian Safitri Iskandar

 

teman, kalau saja 1 orang membaca surat ini, dengan kesadarannya menyumbangkan sejumlah dana, maka bila ada sepuluh, mungkin seratus, atau seribu orang yang membaca akan lebih banyak dana yang terkumpul..

saya mohon dengan sangat, untuk semua teman yang membaca surat ini, silahkan copy paste kembali.. muat dihalaman anda, dan atau buatlah notes dan sebarkan kembali..

untuk dian [sahabat yang entah kapan saya terakhir bertemu dengannya, dan kapan saya dan dia akan dipertemukan kembali..] saya ingin ia tahu, bahwa saya bangga padanyaa.. :)

sudahkah anda bersedekah hari ini? yuk.. sama sama ulurkan tangan untuk membantu sesama kita yang membutuhkan.. :)

 

terimakasih,

 

salam,

Asti Sri Purniyati a.k.a Ratu Tebu :)

Perempuan Yang Dicintai Suamiku

“Pesan” dahsyat buat para suami (dan calon suami) untuk menjaga istrinya…
Dan motivasi hebat buat para istri (dan calon istri) untuk tetap mencintai suaminya…


Oleh : Botefilia

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

“Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?”
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya.

Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,
Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ?

Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

” Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?”

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima”

Di surat yang lain,

“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,

“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…

“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”.

Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Sumber : Botefilia

Sabar Tak Berbatas

November 4, 2009

bapak-anak

Rasanya sudah lama sekali sejak mamah dan keluarga besar [keluarga dengan ukuran badan yang besar] :) saiia memutuskan untuk kembali pulang kampung, dengan berbagai pertimbangan, terutama karena mbah yam yang semakin sepuh, tentu Bapak sebagai anak laki-laki satu-satunya ingin menjaga ibunya..

Jadilah saya seorang diri di bumi sang ruwa jurai ini, kesempatan saya bertemu Adik-adik, Mamah dan Bapak dengan segala wejangannya semakin sedikit sajah.. :(

Kadang, waktu berangkat ke kantor, saya iri [sangaaddd] pada mba yanti, yang pergi ke kantor dibonceng Pak Ratman, ayahnya.. duuhhh.. jadi inget terakhir kali naik vespa sama Bapak terakhir kali waktu masih TK dulu..

Kapan ya naik vespa lagi sama Bapak?? Hahaha.. vespanya saja sudah dijual dari kapan! Hehehe..

Hal-hal kecil yang saya temui sehari-hari kadang mengingatkan saya akan Bapak dan Mamah.. [duhhh, saiia jadi pengen nangis].

Beberapa minggu terakhir, Bapak sering berkunjung ke Gunung Madu, dengan segala wejangannya.. sosok Bapak dimata saya berubah-ubah seiring waktu.. Bapak yang pekerja keras, Bapak yang galak [dengan segala larangannya, diwaktu saiia menginjak remaja], Bapak yang bijaksana.. tapi satu hal yang pasti, Bapak selalu saiiang anak-anaknyaa..

Kenapa jadi ngelantur ya nulisnya??

Jadi apa hubungannyaa?? [ayo kita kembali ke judul] :mrgreen:

Saiia selalu teringat kalimat Bapak, tentang SABAR.. [yang setiap waktu selalu diingatkan ke saiia],

“Sabar itu ga ada batasnya, ketika orang bilang bahwa ‘sabar itu ada batasnya’, artinya dia sudah tidak sabar lagi”

Benar jugahh.. ahhh, sebenernya saiia Cuma kangen Bapak [dan mamah tentunyaaa], pasti karena pagi ini saya lihat mba yanti dibonceng Pak Ratman lagiii..

Robbigh firli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghiro
Robbigh firli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghiro

Bahkan jika ada amalan yang kami lakukan, dan Engkau berkenan menganugerahkan pahala,
Tumpahkan ya Allah, tumpahkan ya Allah, pahala itu kepada orangtua kami.

Kemuliaan itu berasal dari mereka, Ya Rabbi,
Maka tidak ada keraguan sedikitpun kami mohonkan padaMU
Agar Engkau hantarkan seribu malaikat untuk mereka memperoleh kemuliaan
Di dunia dan akhirat

[amien ya ALLAH]

memenuhi janji

Oktober 27, 2009

pepatah lama bilang ‘janji adalah hutang’..

hari ini, ada yang nagih hutang saya.. yaa.. saya sudah pernah berjanji untuk terus menulis.. saya janji untuk meneruskan cerita saya..

maka hari ini saya mulai nyicil ..

kalau janji itu hutang, saya bener2 minta maaf.. untuk semua janji yang belum dapat saya penuhi.. untuk semua janji yang terlambat saya tepati..

saya janji bakalan ngelunasi hutang-hutang janji ituuu..

*nahh.. sekarang udah ngutang lagiii.. :)

judul yang cukup panjang ini, dipilih bukan tanpa alasan..

dibuat berurutan pun bukan tanpa alasan.. [mudah mudahan tidak salah mengurutkan]

berguru pada seorang teman, katanya, untuk menjadi lebih [cantik] baik.. step by step nya diantaranya [yang saya sebut diatas tadi].

saya mulai dari awal yahh..

[berusaha], untuk memperoleh sesuatu bukankah seharusnya kita berusaha sekuat tenaga? kadang-kadang dibutuhkan pengorbanan dalam usaha itu, terkadang kita bahkan harus membayar lebih mahal dari pada orang lain.. namanya juga usaha..

[bersabar] hendaknya kita bersabar dalam melakukan usaha kita, dan menerima apa yang kita peroleh..

[tawakkal], artinya kita menyerahkan segala hasil usaha tadi kepada ALLAH.. masih ingat kan, ‘apa yang menurut kita baik, bisa saja ternyata tidak baik..’ ALLAH maha mengetahui, maka segala apa yang menurut ALLAH baik, baik juga untuk kita.

[ikhlas] ikhlas menerima keputusan ALLAH.. meskipun kadang tidka sesuai dengan harapan kita,

[bersyukur] bersyukur atas apa yang sudah ALLAH berikan pada kita, yakinlah, insyaALLAH itulah yang terbaik untuk kita,, maka barang siapa bersyukur niscaya akan ditambah nikmatnya.. betul bukan?? :)

nahh, bila kita telah mengamalkan sifat-sifat tadi, mudah-mudahan kita semua dapat menjadi orang yang lebih baik..

bukankah manusia akan merugi jika hari ini lebih buruk dari kemarin? atau esok lebih buruk dari pada hari ini?

marilah kita saling mengingatkan dalam kebaikan.. ^^

salam,

ratutebu

is it me you looking for?

Oktober 2, 2009

*just a lil post*

ga tau mesti bilang apa,

mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanmu..

entahlah,

sepertinya tak pernah ada kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanmu..

listen to me luv,

is it me u looking for??

coz i can’t live without you..

Nyengnyong

Oktober 1, 2009

Sebentar lagi halal bi halal kantor [departemen sbf] khususnyaaahhh..

Nah, aku [yang mantan penyanyi] didaulat untuk ikutan paduan suara :mrgreen:

Hahay..

Pasti karena pas agustusan dirikuh ikutan nyengnyong hymne dan mars gmp ituu.. hwalakadahhh..

Kebayang ga si berapa kali latian yang harus diikuti?

Nah, ini hari latian lagi, dakuw di telpon untuk supaya hadir di tempat latihan..

“cepetan” kata bu rara

“kan ujan deres buuu.. duingggiiineee poool..” aku

‘is.. dia niii.. buruan lahh..”

Hahay..

Padahal ini latian udah yang kesekian kalinyahhh.. bisa bisa saiia ga [ngeblog] kerja dehhh.. kalo sebentar sebentar nyengnyong.. :mrgreen:

Magabut.. magabut.. magabut.. :p

alone

alone

aku tahu kau terluka akibat kata-katanya,

selalu saja, dia datang mengumpat dan menghina :(

menyakitkan.. [semua ini salahku, bukan?]
tak seharusnya engkau menerima perlakuan ituuu.. :(

andai dapat kuputar waktu,
tentu kau takkan sendiri menghadapi semua ini..

semua salahku,

[aku tahu]

maaf, bersabarlah..

BE STRONG, and I know you DO

menyaksikan tarian hujan

September 30, 2009

hujan

hujan

Sore ini hujan, aku bergegas mematikan kompi di kantor dan segera pulang, [plus lupa memasukkan kartu absent ke mesin absensi kantor saking buru-burunya] benar saja begitu sampai di rumah ruzbi ku sudah menunggu.

Hampir lima tahun aku bekerja di kantor ini, entah kenapa setiap kali hari gajian, hampir dapat dipastikan hari itu hujan.. padahal pedagang pasar malam [yang jumlahnya tidak sedikit] telah menggelar dagangannya..

Rutinitasku di sore hari gajian pun berubah semenjak kehadiran ruzbi, kami biasa duduk di ruang makan sambil membiarkan pintu terbuka.. menikmati tarian hujan dengan keheningan sebagaimana biasanya..

Kami membiarkan suara hujan menentukan suasananya.. kadang terdengar ceria, mungkinkah mereka saling bercerita perjalanan mereka sebelum akhirnya turun ke bumi dalam bentuk butiran air hujan??

‘hmm.. mungkin saja mereka mengalami perjalanan yang indah’ jawabku dalam hati.

Kadang hujan tampak sedang sangat marah.. bahkan mengamuk.. apakah Tuhan sedang menyampaikan amarahnya..

Bila hujan menarikan amarahnya, aku segera mendekap ruzbi dalam pelukanku, menenangkannya agar ia tak risau.. ‘tarian hujan akan segera berhenti sayangku..’ bisikku.

Kadang hujan seperti menarikan tangisan langit.. iramanya pilu.. menyayat hati.. ada apa gerangan?? Apakah langit sedang berduka??

Hujan.. dengan tariannya.. sesuatu hal yang mungkin tidak terlalu diperhatikan oleh orang lain.. tapi aku telah berjanji pada ruzbi ku, untuk selalu menemaninya menyaksikan tarian hujan.. dan menikmati aroma tanah serta angin sejuk yang bertiup setelahnya..

Kadang semburat pelangi pun muncul setelahnya.. seolah menandakan pertunjukan tari sudah usai.. jangan lupa untuk menyaksikannya kembali dilain waktu..

‘bagaimana kabar hujan hari ini? Ayo duduk bersama kami menyaksikan tarian hujan.. dengar.. iramanya sudah berbunyi.. hujan akan segera menari..’

Terus Belajar

September 30, 2009

gambar dari sini

Terus Belajar

Begitu semangat nya Bapak yang seharusnya saya contoh..

Belajar dan terus belajar.. dalam hidup, manusia tak pernah berhenti belajar.. setiap hari manusia belajar.. belajar dari rasa ingin tahu nya.. belajar dari pengalamannya.. belajar dari pengalaman orang lain.. belajar dari kegagalannya.. and even belajar dari kegagalan orang lain..

Siapa saya yang mengaku diri sudah pintar dan tak mau belajar??

Sombong!

“Bukan pintar.. tapi malas..” jawab hati kecilku..

Rasa malas itu membunuh kreatifitas.. malas menulis.. jadi kehilangan daya tarik pada tulisan saya.. kehilangan nyawa pada tulisan saya.. dan kehilangan makna tentunya..

Tulisan tulisan saya akhir akhir ini hanya kata tanpa makna.. tanpa semangat.. hanya kebutuhan untuk diakui sebagai blogger sejati kah?? Bukan begitu seharusnya..

Saya menulis untuk diri saya sendiri.. [kalau ada orang lain yang mengambil makna dari tulisan saya.. maka itu adalah nilai positif yang lain]..

Saya menulis untuk memperbaiki kemampuan saya.. saya menulis untuk saya sendiri.. minimal untuk menyalurkan hobby..

Saya [sedang] belajar menulis yang baik..

Bukan untuk menjadi penulis professional..

Jadi jangan cemooh saya karena tulisan saya.. jangan hina saya karena pemilihan kata kata saya.. jangan cerca saya karena tulisan tanpa makna saya.. dan jangan hakimi saya melalui tulisan saya..

Karena saya sesungguhnya menulis untuk diri saya sendiri.. sebagai metode pembelajaran diri..

Silahkan membaca [bila suka],

Saya tidak memaksa.. 

with love, ratutebu